Teori akuntansi dan perumusannya

       Tugas Kelompok                                                     Dosen Pembimbing 

      Teori Akuntansi                                                  Andri  Novius,SE,Msi.Ak

 

 

Teori Akuntansi dan Perumusannya

 

Disusun oleh :

Kelompok  3

HAYATI NUR AMSAL

RATNA SARI

RETNI NOVIASARI

SRI SULASTRI

 

 

 

FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SULTAN SYARIF QASIM

2012

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kami ucapkan atas  kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami bisa menyelesaikan tugas kelompok mata kuliah Teori Akuntansi, yaitu makalah dengan judul “Teori Akuntansi dan Perumusannya ”.

Selanjutnya kami juga mengucapkan terima kasih kepada :

  1. Bapak Andri Novius, SE, Msi, Ak sebagai dosen mata kuliah Teori Akuntansi.
  2. Kepada  Orang Tua kami yang selalu memberikan dukungan moril maupun materil
  3. Teman – teman yang telah memberikan dukungan.

Menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih terdapat berbagai kekurangan, Oleh karena itu diharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca. Semoga makalah ini dapat berguna bagi kita semua. 

 

 

Pekanbaru, Maret  2012

 

 Penulis

 

 

 

 

 

                                                                                                                                               

DAFTAR ISI

 

 

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………………………….. 2

DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………………………… 3

BAB I : PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah………………………………………………………………………………… 4
  2. Tujuan ……………………………………………………………………………………………………….. 4

BAB II : PEMBAHASAN

  1. Teori Akuntansi ………………………………………………………………………………………….. 5
  2. Sifat Teori Akuntansi……………………………………………………………………………………. 6
  3. Tujuan dan Fungsi Teori Akuntansi………………………………………………………………… 7
  4. Pembuatan Kebijakan  Teori Akuntansi………………………………………………………….. 8
  5. Metode Perumusan  Teori Akuntansi……………………………………………………………… 10
  6. Periodesasi  Teori Akuntansi…………………………………………………………………………. 10
  7. Pendekatan Penyusunan Teori Akuntansi……………………………………………………….. 12

BAB III : PENUTUP

  1. Kesimpulan ………………………………………………………………………………………………… 17       

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………………………… 18

 

 

 

                                                                                                                                                           

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.  Latar Belakang Masalah

Akuntansi berkembang sejalan dengan perkembangan masyarakat. Sejarah perkembangan pemikiran akuntansi dibagi dalam tiga periode: tahun 4000 SM – 1300 M, Tahun 1300 – 1850 M, dan tahun 1850 Msampai sekarang. Masing-masing periode memberi kontribusi yang berarti bagi ilmu akuntansi..

Perkembangan teknologi yang luar biasa juga berdampak pada perubahan ilmu akuntansi modern Pengguna akuntansi juga bervariasi, dari yang sekedar memahami akuntansi sebagai alat hitung menghitung dan sumber informasi dalam pengambilan keputusan

Teori akuntansi di kembangkan dan di saring lewat sebuah proses riset akuntansi. Hasil riset pertama dari akuntan pendidik, dan pihak lain dari organisasi pembuatan kebijakan, kantor akuntan publik, dan sektor industri swasta yang ikut berperan penting dalam peran proses riset akuntansi. Standar dan pernyataan dan ketetapan yang di hasilkan oleh organisasi  pembuat kebijakan akan di interprestasikan dan di terapkan dalam praktek pada tingkat organisasi.

B. Tujuan

Teori akuntansi memberikan seperangkat prinsif yang logis, saling terkait, yang menbentuk kerangka umum, dan dapat dipakai sebagi acuan untuk menilai dan mengembangkan praktek akuntansi. Yang berfungsi Sebagi pedoman bagi lembaga penyusun standar akuntansi, Memberi kerangka acuan dalam menyelesaikan masalah akuntansi yang tidak ada standar resminya, Meningkatkan pemahaman dan keyakinan pembaca terhadap informasi yang di sajikan dalam laporan keuangan, Agar laporan keuangan dapat diperbandingkan dan Memberikan kerangka acuan dalam menilai prosedur dan praktek akuntansi.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.    Teori Akuntansi

Pada awal di praktekkannya akuntansi bahkan sampai beberapa tahun kemudian tidak ada teori akuntansi. Selama tidak adanya struktur teori akuntansi formal, maka yang terjadi adalah banyaknya alternative metode pencatatan yang berlaku dalam praktek sehingga menimbulkan kebingungan masyarakat. Teori adalah susunan konsep, definisi, dan dalam menyajikan pandangan yang sistematis, fenomena dengan menunjukkan hubungan antara variabel yang satu dengan yang lain dengan maksud untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena.

Teori merupakan hasil dari kristalisasi fenomena emfiris, yang diambil dari berbagai riset, dan sampai pada suatu kesimpulan  yang bersifat  universal, logis, konsisten, prediksi, dan objektif.( Hery : 2009 )

  1. Menurut  Vernon kam ( 1986 ) teori adalah suatu system yang menyeluruh, dimana meliputi asumsi dasar, defenisi, tujuan, prinsif atau standar,dan prosedur atau metode.
  2. Menurut Kenneth S.most ( 1982 ) teori adalah suatu pernyataan yang sistematis mengenai prinsif yang mendasar seperangkat fenomena.

Jadi teori akuntansi adalah cabang akuntansi yang terdiri dari pernyataan yang sistematis tentang prinsif dan metode yang membedakannya dengan praktek. Berbagai pengertian teori akuntansi :

Soewardjono mengemukakan, sebenarnya banyak pengertian yang dapat di lekatkan pada kata teori dari akuntansi ( winwin yadiati : 2007 ). Beberapa pendapatannya :

1)      Teori sebagai lawan praktek, biasanya teori dalam pengertian ini di ibarat kan dengan apa yang diharapkan atau apa yang seharusnya dilakukan dalam kehidupan senyatanya. Teori dianggap sebagai desain dan praktik dianggap sebagai desollen. Teori akuntansi sering diartikan sebagai seperangkat konsep – konsep yang membahas tentang bagaimana seharusnya praktik akuntansi berjalan.

2)      Teori sebagai penjelasan ilmiah, merupakan pernyataan tentang hubungan antara variabel – variabel alam atau sosial yang dapat di gunakan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala – gejala alam atau sosial.

3)      Teori sebagai penalaran logis yang melandasi praktik dalam dunia nyata. Teori ini berusaha untuk memberikan justifikasi terhadap praktik agar praktik dapat di pertanggung jawabkan kelayakannya.

 

Teori memiliki tiga dimensi yaitu :

a)      Reductionism ( pengurangan )

Teori ini dimulai dari asumsi – asumsi dimana tidak langsung menunjukkan objek yang di observasi, dan bukan merupakan pernyataan yang dapat di uji kebenarannya.tetapi teori ini merupakan bahan rujukan untuk mengamati fenomena.

b)      Instrumentalism ( instrument )

Teori ini merupakan alat yang dapat digunakan untuk menilai pernyataan tentang hasil dari suatu observasi.teori ini berperan untuk menjelaskan dan memprediksikan.

c)      Realism ( nyata )

Teori ini merupakan sekumpulan proposisi atau dalil yang merupakan pernyataan kebenaran atau tidak kebenaran tentang dunia nyata,fenomena,atau suatu objek.

  1. B.     Sifat Teori Akuntansi

Menurut Dr. Winwin Yadiati, SE, M.Si, Ak (2007) sifat teori akuntansi yaitu lebih bersifat deskriptif (positif), yaitu menjelaskan dan meramalkan variable-variabel yang diteorikan apa adanya dan preskriptif (normatif), yaitu menjelaska apa yang seharusnya atau menggambarkan variable sesuai dengan aturan tertentu dan bagaimana seharusnya.

Teori akuntansi memiliki beberapa sifat, diantaranya yaitu :

    1. merupakan seperangkat prinsip yang logis, saling terkait dan membentuk kerangka umum
    2. berkaitan erat dengan penyusunan kebijakan akuntansi
    3. harus mencakup semua literatur akuntansi yang memberikan pendekatan yang berbeda-beda satu sama lain
    4. harus dapat memberikan penjelasan mengenai praktik akuntansi, menjawab dan menjelaskan semua fenomena yang melatarbelakangi penerapan suatu metode dalam praktik akuntansi.
    5. harus dapat menjelaskan mengapa perusahaan lebih cenderung menggunakan metode LiFO dartipada FIFO dalam menilai persediaannya
    6. harus bisa memprediksi atau bahkan menemukan gejala akuntansi yang belum diketahui
    7. sangat penting dalam menyusun dan memverifikasi prinsip akuntansi

 

  1. C.    Tujuan dan fungsi Teori akuntansi
    1.  Tujuan  teori akuntansi

Tujuan utama dari teori akuntansi adalah memberikan seperangkat prinsif yang logis, saling terkait, yang menbentuk kerangka umum, dan dapat dipakai sebagi acuan untuk menilai dan mengembangkan praktek akuntansi.

  1.  Fungsi teori akuntansi

Vernon Kam (1986) mengemukakan fungsi dari adanya teori akuntansi sebagai berikut :

a)      Menjadi pegangan bagi lembaga penyusun standar akuntansi menyusun standarnya.

b)      Memberikan kerangka rujukan untuk menyelesaikan masalah akuntansi dalam hal tidak adanya standar resmi.

c)      Menentukan batas dalam hal melakukan “judgement” dalam penyusunan laporan keuangan.

d)     Meningkatkan pemahaman dan keyakinan pembaca laporan terhadap informasi yang disajikan laporan keuangan.

e)      Meningkatkan kualitas dapat diperbandingkan.

Sedangkan hendriksen (1982) mengemukakan kegunaan teori akuntansi sebagai berikut :

a)      Memberikan kerangka rujukan sebagai dasar untuk menilai prosedur dan praktek akuntansi.

b)       Memberikan pedoman terhadap praktek dan prosedur akuntansi yang baru

Fungsi teori akuntansi ( hery : 2009: 124 ) adalah :

  1. Sebagi pedoman bagi lembaga penyusun standar akuntansi
  2. Member kerangka acuan dalam menyelesaikan masalah akuntansi yang tidak ada standar resminya.
  3. Meningkatkan pemahaman dan keyakinan pembaca terhadap informasi yang di sajikan dalam laporan keuangan.
  4. Agar laporan keuangan dapat diperbandingkan
  5. Memberikan kerangka acuan dalam menilai prosedur dan praktek akuntansi.

Menurut financial accounting standars board ( FASB ), teori dalam akuntansi di perlukan untuk :

1)      Mengarahkan badan penyusun standar dalam menetapkan standar akuntansi.

2)      Memberikan landasan konseptual untuk memecahkan masalah perlakuan akuntansi tertentu bila belum ada standar yang mengaturnya.

3)      Member batas keleluasaan dalam menyusun laporan keuangan

4)      Meningkatkan pemahaman dan keyakinan pemakai terhadap arti penting laporan keuangan.

5)      Meningkatkan daya banding laporan keuangan.

 

  1. D.    Pembuatan Kebijakan Akuntansi

Pembuat kebijakan akuntansi ada 5 yaitu :

  1. Kantor akuntan publik atau KAP dan individu

KAP dan individu bertanggung jawab untuk menyatakan bahwa laporan keuangan suatu perusahaan disajika secara wajar atas seluruh aktifitasnya.

 

  1. American institute of ciertified public accountants (AICPA)

AICPA merupakan organisasi profesi yang mengkoordinasi para akuntan public bersertifikat yang ada di Amerika Serikat. Lembaga ini memiliki dua komite tekhnis senior yang mempunyai peran penting, yaitu accounting standards executive committee (AcSec) dan auditing standards committee (AuSec) yang berwenang untuk mewakili AICPA dalam menanggapi masalah akuntansi serta masalah pengauditan.

  1. The American Accounting Assocition (AAA)

AAA merupakan organisasi untuk para akuntan dari bidang akademik muapun individu yang tertarik dengan perbaikan praktik dan teori akuntansi. AAA berfungsi sebagai suatu forum akademik yang mengungkapkan berbagai pandangan isu dan topik akuntansi.

  1. The financial Accounting standard board (FASB)

FASB menggantiakan APB pada tahun 1973 sebagai badan yang bertanggung jawab untuk menetapkan standar-standar akuntansi. FASB merupakan badan yang bersifat otoritatif denagn tugas menetapkan dan meningkatkan standar laporan akuntansi keuangan sehingga standar tersebut menaruh perhatian utama pada pencatatan informasi tentang kejadian ekonomi dan transaksi melalui cara yang berarti dalam laporan keuangan.

  1. Securities and Exchange Commission (SEC)

SEC dibentuk oleh kongres pada tahun 1934 yang bertanggung jawab menangani administrasi berbagai ketentuan yang meregulasi pasar saham dan menjamin laporan serta pengungkapan yang memadai dari setiap perusahaan di Amerika.

            Selain itu, organisasi profesi yang berperan dalam penyusunan atau pembentukan dan pengembangan standar akuntansi keuangan (SAK) di Indonesia adalah ikatan akuntansi Indonesia (IAI) sebagai satu-satunya organisasi profesi akuntansi di Indonesia.

            Ikatan akuntan Indonesia adalah organisasi profesi akuntan yang bebas dan tidak terikat pada perkumpulan apapun, didirikan di Jakarta pada tanggal 23 Desember 1957, dengan Pemrakarsa yang juga menjadi pengurus IAI pertama kali adalah ketua: Soemardjo Tjitrosidojo, sekretaris: Go Tie Siem, bendahara: Basuki T. Siddharta, komisaris: Hendra Darmawan dan Tang Tong Joe

  1. E.      Metode Perumusan Teori Akuntansi

Teori akuntansi mampu merumuskan kebenaran nya, sehingga teori ini secara terus menerus harus dapat diuji dan diverifiksi. Ada 3 kriteria atau pihak atau sumber yang memiliki wewenang dalam menentukan kebenaran atau suatu teori, yaitu:

  1. 1.      Dogmatic ( kebenaran nya )

Suatu pernyataan atau teori dapat dikatakan benar jika disampaikan oleh pihak-pihak yang memang pada dasarnya memiliki wewenang (otoritas) untuk menyampaikan kebenaran tersebut. Kebenaran atas pernyataan ini tidak perlu lagi diuji. Keyakinan pada kebenaran ini hanya berdasar pada kepercayaan, keyakinan, atau iman seseorang.

  1. 2.      Self Evidence ( bukti diri sendiri )

Kebenaran dari sutu pernyataan atu teori dibuktikan lewat pengetahuan umum, pengamatan, atau pengalaman. Disini kebenaran dari suatu pernyataan atau teori akan terbukti dengan sendirinya.

  1. 3.      Scientific ( ilmiah )

Kebenaran dari suatu pernyataan atau teori dibuktikan lewat metode ilmiah. Scientific method meliputi beberapa tahap, yaitu:

  1. Mengidentifikasi masalah yang akan diteliti
  2. Membuat hipotesa
  3. Mengumpulkan data yang diperlukan untuk pengujian hipotesa
  4. Menganalisis dan mengevaluasi data yang terkait dengan hipotesa
  5. Menarik kesimpulan

 

  1. F.     Periodisasi Teori Akuntansi

Periodisasi teori akuntansi dapat digolongkan menjadi 4 golongan:

  1. Pre-theory period (1492-1800)

Dalam periode ini belum ada teori akuntansi yang dirumuskan, melainkan hanya sebatas pada saran-saran atau pernyataan-pernyataan yang tidak dapat dianggap sebagai teori. Peragalo mengemukakan bahwa tidak ada teori akuntansi yang dirumuskan sejak Pacioli sampai pada awal abad ke-19. kalaupun ada saran-saran atau pertanyaan-pertanyaan belum dapat digolongkan sebagai teori atau pernyataan yang sistematis.

  1. General scientific period (1800-1955)

Dalam periode ini sudah ada pengembangan teori, namun hanya berupa penjelasan terhadap praktik akuntansi. Akuntansi dikembangkan berdasatkan metode empiris yang menekankan pada hasil obsevasi atas peristiwa yang terjadi secara realitas, bukan berdasarkan logika. Dalam periode ini sudah ada pengimbangan teori yang penekanannya baru berupa penjelasan terhadap praktek akuntansi. Di sini sudah ada kerangka kerja untuk menjelaskan dan mengembangkan praktek akuntansi. Laporan AAA ”A Tentative Statement of Accounting Principles Affecting Corporate Reports pada tahun 1938 serta laporan AICPA tentang A Statement of Accounting Principle (Sanders, Hatfield dan Moore) merupakan dua contoh perumusan teori akuntansi berdasarkan metode empiris atau disebut era general scientific ini.

  1. Normative period (1956-1970)

Dalam periode ini perumus teori mulai mendefinisikan norma-norma atau praktik akuntansi yang baik, dan pengembangan teori akuntansi lebih menekankan pada apa yang seharusnya. Akuntansi dianggap sebagai norma peraturan yang harus diikuti.

  1. Specific scientific period ( 1970 – sekarang )

Periode ini disebut juga sebagai era positif, dimana teori akuntansi tidak cukup hanya dengan berdasarkan pada normatif saja, tetapi juga dapat di uji kebenarannya. Perumusan atau pendefisian norma yang terjadi dalam periode sebelumnya dianggap subjektif, sehingga dapat di uji terlebih dahulu keabsahannya secaca positif. Di  tahun 1970 – an, data empiris sudah mulai banyak tersedia, demikian juga dengan tehnik – tehnik statistik yang memungkinkan untuk dilakukannya pengujian. Norma dinilai subyektif jadi harus diuji secara positif. Pendekatan normatif dikritik karena:

a)      Teori normatif tidak melibatkan pengujian hipotesa.

b)      Teori normatif didasarkan pada pertimbangan subyektif.

Tujuan dari pendekatan teori akuntansi positif adalah untuk menerangkan dan meramalkan praktek akuntansi.

  1. G.    Pendekatan Penyusunan Teori Akuntansi

Mengenai berbagai pendekatan dalam penyusunan teori akuntansi ini akan di uraikan pada metodologi dan berbagai pendekatan dalam perumusan teori akuntansi (Ahmad riahi – belkaoui : 2006 ) :

  1. Pendekatan nonteoretis

Pendekatan nonteoretis adalah suatu pendekatan pragmatis ( praktek ) dan pendekatan kekuasaan.

  1. Pendekatan pragmatis ( pragmatic approach )

Terdiri atas penyusunan suatu teori yang di tandai oleh kesamaan nya dengan praktik dunia nyata yang berguna dalam artian memberikan solusi yang sifatnya praktis. Berdasarkan pendekatan ini, teknik dan prinsip akuntansi seharusnya di pilih atas dasar kegunaan mereka bagi para pengguna informasi akuntansi dan relevansi mereka terhadap proses pengambilan keputusan. Kegunaan dan utility berarti sifat yang mencocokkan sesuatu untuk melayani atau memfasilitasi tujuan yang di maksud.

Pendekatan pradigmatis adalah bagian dari suatu teori akuntansi, yang berdasar pada realisasi dari pembukuan berganda yang dimuat dalam summa de arithmatica, geometria, proportioni et proportionalita dari luca pacioli, yang diterbitkan di venesia tahun 1494. Pendekatan pragmatis Terdiri dari penyusunan teori yang di tandai dengan penyesuaian praktek sesungguhnya yang bermamfaat untuk memberi saran solusi praktik. Teknik – teknik dan prinsif – prinsip akuntansi seharusnya di pilih atas dasar manfaat bagi pengguna informasi akuntansi dan keterkaitannya dengan proses pembuatan keputusan.

 

  1. Pendekatan kekuasaan ( authoritarian approach )

Untuk perumusan suatu teori akuntansi, yang terutama di pergunakan oleh organisasi professional, terdiri atas penerbitan pernyataan sebagai regulasi dari praktik – praktik akuntansi.

Kedua pendekatan ini berasumsi bahwa teori akuntansi dan  hasil tehnik akuntansi harus disebutkan dalam dasar penggunaan akhir laporan keuangan, jika akuntansi harus memiliki suatu fungsi yang berguna. Dengan kata lain, suatu teori tanpa konsekuensi praktik adalah suatu teori yang buruk.

Pendekatan teori akuntansi meresionalisasikan pilihan dari teknik – teknik akuntansi yang berdasarkan atas pemeliharaan persamaan akuntansi, yaitu persamaan neraca dan persamaan laba akuntansi.Persamaan neraca dan laba biasanya di nyatakan :

Aktiva = Kewajiban + Ekuitas pemilik dan Laba Akuntansi = Pendapatan – Biaya

Dua persamaan dalam pendekatan teori akuntansi ini mengarah kepada berkembangnya dua posisi yang terdapat dalam badan penyusunan standar yaitu, posisi yang beriontasi pada neraca dan posisi yang beriontasi pada laba.

  1. Pendekatan deduktif

Pendekatan deduktif dalam penyusunan teori akuntansi di mulai dengan dalil – dalil dan konsep – konsep dasar kemudian di tarik kesimpulan berupa prosedur dan tehnik – tehnik akuntansi.

Pendekatan deduktif dalam penyusunan teori manapun di awali dengan dalil dasar dan diteruskan dengan pengambilan kesimpulan logis mengenai subjek yang dipertimbangkan. Jika kita mengamsumsikan pada titik ini bahwa dalil dasar mengenai lingkungan akuntansi terdiri atas baik tujuan maupun rumus, langkah yang digunakan untuk memperoleh pendekatan deduktif akan meliputi :

  1. Menentukan tujuan dari laporan keuangan
  2. Memilih postulat dari akuntansi
  3. Menghasilkan prinsip dari akuntansi
  4. Mengembangkan teknik dari akuntansi

Semua itu berdasarkan pada suatu formula yang benar dari tujuan akuntansi. Menurut popper, pengujian teori dapat di laksanakan dalam 4 pokok :

  1. Terdapat perbandingan logis di antara masing – masing kesimpulan, dimana konsistenan internal dari system uji  
  2. Terdapat investigasi dari bentuk logis teori dengan objek untuk menentukan apakah teori memilki karakter teori empiris atau sains.
  3. Terdapat perbandingan dengan teori lain, terutama dengan sasaran untuk menentukan apakah teori itu dapat dikatakan merupakan kemajuan ilmiah jika ia dapat melewati ujian yang kita berikan
  4. Terdapat ujian dari teori dengan cara penerapan empiris dari kesimpulan yang dapat diambil dari teori.

 Pendekatan ini dilakukan dalam penyusunan struktur akuntansi di mana dirumuskan dahulu tujuan laporan keuangan, rumusan postulat, kemudian prinsip, dan akhirnya lebih khusus menyusun teknik akuntansi.

  1. Pendekatan induktif

Pendekatan yang dimulai dari pengamatan empiris untuk kemudian ditarik kesimpulan umum ( generalisasi ). Pendekatan induktif dalam penyusunan dari suatu teiri diawali dengan observasi dan pengukuran serta berlanjut pada kesimpulan umum. Dalam penerapan akuntansi, pendekatan induktif diawali dengan observasi mengenai informasi keuangan dari perusahaan bisnis dan di lanjutkan dengan menyusun generalisasi dan prinsip – prinsip dari observasi berdasarkan pada hubungan yang berulang kembali. Tahap yang dilalui adalah:

1)      Mengumpulkan semua observasi.

2)      Analisis dan golongan observasi berdasarkan hubungan yang berulang-ulang dan sejenis, seragam, mirip.

3)       Ditarik kesimpulan umum dan prinsip akuntansi yang menggambarkan hubungan yang berulang-ulang tadi.

4)      Kesimpulan umum diuji kebenarannya.

Tidak seperti pendekatan deduktif, dalam pendekatan induktif ini kebenaran dan kepalsuan dalil tidak tergantung pada dalil lainnya, tetapi harus melalui pengujian empiris. Dalam pendekatan induktif kebenaran suatu dalil tergantung pada pengamatan terhadap contoh yang cukup dari hubungan kasus yang berulang-ulang dan seragam.

pendekatan induktif untuk suatu teori mencakup 4 tahap :

a)      Mencatat seluruh observasi

b)      Menganalisis dan mengklasifikasikan observasi ini untuk mendeteksi adanya hubungan yang berulang kembali

c)      Penurunan induktif dari generalisasi dan prinsip akuntansi dari observasi yang menggambarkan hubungan brulang

d)     Menguji generalisasi.

 

  1. Pendekatan etis

Inti dasar dari pendekatan etis terdiri atas konsep Kewajaran ( fairness ), Keadilan ( justice ), Ekuitas ( equity ), Kenyataan ( truth ). 

Pendekatan ini diperkenalkan oleh D.R. Scott. Menurut beliau kriteria yang harus digunakan dalam perumusan teori akuntansi adalah keadilan dengan memperlakukan pihak yang berkaitan secara adil. Disajikan kebenaran dalam arti laporan yang benar dan akurat tanpa mengundang salah tafsir, dan kewajaran dalam arti penyajiannya wajar, tidak bias, dan tidak sebagian-sebagian. Dalam buku lain dikenal dengan ”Pendekatan Peristiwa” (Event Approach) artinya dalam perumusan teori kita harus memperhatikan semua pihak jangan hanya memperhatikan pihak-pihak tertentu saja. Pendekatan ini mirip pendekatan etis ini. Konsep tersebut merupakan kriteria utama dari D.R.scott untuk perumusan teori akuntansi.dari criteria tersebut pendekatan kewajaran telah menjadi salah satu tujuan dasar akuntansi seperti :

a)      Kepatuhan terhadap prinsip – prinsip akuntansi yang berlaku umum

b)      Pengungkapan

c)      Konsistensi

d)     Dapat di perbandingkan

 

  1. Pendekatan sosiologi

Pendekatan sosilogi bagi perumusan teori akuntansi menekankan pengaruh sosial dari teknik akuntansi. Hal ini merupakan pendekatan etis yang berpusat pada suatu konsep dari kewajaran yang lebih luas, kesejahteraan sosial.berdasarkan pendekatan sosiologi, prisip atau teknik akuntansi yang dievaluasi untuk penerimaan dari dasar pengaruh laporannya terhadap seluruh kelompok dalam komunitas.

Untuk mencapai tujuannya, pendekatan sosiologi keberadaan dari nilai sosial baku yang mungkin di gunakan sebagai kriteria untuk menentukan teori akuntansi.

  1. Pendekatan ekonomi

Pendekatan ekonomi dalam merumuskan suatu teori akuntansi menekankan pada pengendalian prilaku dari indikator makroekonomi yang dihasilkan oleh adodsi dari berbagai teknik akuntansi. Hingga sebelum di bentuknya FASB, pendekatan ekonomi dan konsep dari konsekuensi ekonomi tidak banyak di pakai dalam akuntansi.

  1. Pendekatan selektif

            Secara umum, perumusan pada teori akuntansi dan pengembangan prinsip – prinsip akuntansi telah mengikuti pendekatan selektif, atau kombinasi dari berbagai pendekatan,dan bukannya hanya satu dari pendekatan yang disajikan disini. Pendekatan selektif adalah terutama merupakan akibat dari berbagai usaha oleh individu dan professional serta organisasi pemerintahan untuk berpartisipasi dalam pematangan konsep dan prinsip dalam akuntansi. Pendekatan selektif ini telah memberikan peningkatan kepada pendakatan baru yang sedang diperdebatkan dalam litaratur :

a)      Pendekatan peraturan

b)      Pendekatan prilaku

c)      pendekatan kejadian, prediksi, dan positif.

 

 

BAB III

PENUTUP

            Kesimpulan

Teori akuntansi merupakan  cabang akuntansi yang terdiri dari pernyataan yang sistematis tentang prinsif dan metode yang membedakannya dengan praktek. Teori akuntansi di kembangkan dan di saring lewat sebuah proses riset akuntansi. Hasil riset pertama dari akuntan pendidik, dan pihak lain dari organisasi pembuatan kebijakan, kantor akuntan public, dan sektor industri swasta yang ikut berperan penting dalam peran proses riset akuntansi. Standar dan pernyataan dan ketetapan  yang di hasilkan oleh organisasi  pembuat kebijakan akan di interprestasikan dan di terapkan dalam praktek pada tingkat organisasi. Teori akuntansi berfungsi Sebagi pedoman bagi lembaga penyusun standar akuntansi, Memberi kerangka acuan dalam menyelesaikan masalah akuntansi yang tidak ada standar resminya, Meningkatkan pemahaman dan keyakinan pembaca terhadap informasi yang di sajikan dalam laporan keuangan, Agar laporan keuangan dapat diperbandingkan dan Memberikan kerangka acuan dalam menilai prosedur dan praktek akuntansi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Belkaoui, Ahmad Riahi, Accounting Theory, Terjemahan Marwata,Harjanti Widiastuti, Ch. Heni Kurniawan, dan Alia Ariesanti.Thomson Learning, London, 2000

 Belkaoui, Ahmad Riahi, Accounting Theory, Terjemahan Ali Akbrar Yulianto, Risnawati Dermauli. Cangega Learning, London, 2006

Hery, Teori akuntansi, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2009

Yadiati, winwin, Teori akuntansi, suatu pengantar, Prenada Media group, Jakarta, 2007

 

 

 

 

 

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

laporan keuangan

Tugas Kelompok                                Dosen Pembimbing

Teori Akuntansi    Andri Novius S.E.,M.Si.,Ak

 

LAPORAN KEUANGAN

 

 

Disusun Oleh :

 

Anissa Rizky

Andri Haryadi

Nurfiah

 

 

AKUNTANSI A

FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SULTAN SYARIF QASIM

2012

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………………………….. i

DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………………….. ii

 

BAB I       PENDAHULUAN……………………………………………………………………………… 1

                latar belakang……………………………………………………………………………….. 1

BAB II      PEMBAHASAN……………………………………………………………………………….. 2

Pengertian Laporan Keuangan………………………………………………………… 2

tujuan laporan keuangan………………………………………………………………… 2

bentuk laporan keuangan……………………………………………………………….. 3

pengakuan dan pengukuran laporan keuangan…………………………………. 12

kerangka dasar konseptual untuk akuntansi keuangan………………………. 13

karakteristik kualitatif laporan keuangan……………………………………        14

keterbatasan dalam laporan keuangan………………………………………        16

BAB III     PENUTUP……………………………………………………………………………… …….. 18

                Kesimpulan…………………………………………………………………………………… 18

 

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………………………… 19

 

 

KATA PENGANTAR

 

Assalamualaikum Wr.Wb

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkah, rahmat dan hidayah-Nya makalah ini dapat diselesaikan dengan baik. Tidak lupa shalawat serta salam untuk Nabi Besar Muhammad SAW.

Makalah yang berjudul “ Laporan Keuangan “ ini disusun dalam rangka memenuhi tugas diberikan oleh dosen dan sebagai bahan pelajaran bagi penulis dan pembaca.

Penulisan  makalah ini tidak terlepas dari bantuan, bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak, maka perkenankanlah ucapan terima kasih dihaturkan secara khusus kepada :

  1. Andri Novius S.E.,M.Si Ak
  2. Semua pihak yang telah memberikan dukungan dan bantuan

 

Semoga Allah membalas semua kebaikan, bantuan dan perhatian yang telah diberikan kepada penulis.Tak lupa penulis memohon maaf apabila terdapat kekhilafan dan kesalahan.Akhirnya, penulis berharap semoga Makalah ini dapat bermanfaat terlepas dari semua kekurangannya.

Wassalamualaikum Wr.Wb

 

 

Pekanbaru, 02 April 2012

 

penulis

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.Latar Belakang

Akuntansi adalah seni dari pada pencacatan,penggolongan,dan peringkasan dari pada peristiwa peristiwa dan kejadian-kejadian yang setidak-tidaknya sebagian bersifat keuangan dengan cara setepat-tepatnya dan dengan penunjuk  atau dinyatakan dalam uang, serta penafsiran terhadap hal-hal yang timbul dari padanya.

Laporan Keuangan adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk mengkomunikasikan data keuangan atau aktivitas perusahaan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

Laporan keuangan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi perusahaan karena laporan keuangan merupakan representasi keadaaan keuangan perusahaan yang akan menentukan langkah perusahaan selanjutnya.laporan keuangan yang sehat akan meyakinkan investor untuk menanamkan investasinya pada perusahaan kita.

Karena laporan keuangan adalah dasar bagi kebanyakan upaya analistis tentang suatu usaha,pertama-tama kita harus mengerti sifat,cakupan,dan batasannya sebelum kita menggunakan data dan observasi yang diturunkan dari laporan itu untuk penilaian analisis kita.Laporan keuangan yang dibuat berdasarkan prinsip akuntansi yang lazim,mencerminkan efek keputusan yagn dibuat manajemen pada masa lalu maupun sekarang.Namun hal itu mengandung kemenduaan(ambiguity) yang besar.Laporan keuangan yang didasarkan pada prinsip akuntansi keuangan yang berusaha mencatat secara konsisten dan wajar setiap transaksi bisnis dengan menggunakan sistem biaya historis pada waktu transaksi terjadi dan prinsip penandingan pendapatan dengan biaya melalui akrual dan alokasi.prinsip prinsip ini karena sifat dasarnya membuat laporan keuangan terbuka untuk beberapa interpretasi khusunya dari segi dampak ekonomi

 

BAB II

PEMBAHASAN

LAPORAN KEUANGAN

  1. 1.      PENGERTIAN LAPORAN KEUANGAN

Akuntansi (Hery, 2009) adalah seni dari pada pencacatan,penggolongan,dan peringkasan dari pada peristiwa peristiwa dan kejadian-kejadian yang setidak-tidaknya sebagian bersifat keuangan dengan cara setepat-tepatnya dan dengan penunjuk  atau dinyatakan dalam uang, serta penafsiran terhadap hal-hal yang timbul dari padanya.

Dari definisi akuntansi tersebut diketahui bahwa peringkasan dalam hal ini dimaksudkan adalah pelaporan dari peristiwa-peristiwa keuangan perusahaan yang dapat diartikan sebagai laporan keuangan. Menurut Hery S.E., M.Si (2009) dalam bukunya “Teori Akuntansi” mengatakan bahwaLaporan Keuangan adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk mengkomunikasikan data keuangan atau aktivitas perusahaan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

  1. 2.      TUJUAN LAPORAN KEUANGAN

Menurut Statement of Financial Accounting Concept (SFAC) No. 1 (Financial Accounting Standard Board/ FASB  tahun 1978) :

1)      Menyediakan informasi yang berguna bagi investor dan kreditur serta pihak-pihak lain untuk pembuatan keputusan investasi, kredit dan keputusan lainnya yang  bersamaan

2)      Menyediakan informasi guna membantu investor, creditor dan pengguna lainnya dalam menilai jumlah, ketepatan waktu dan ketidakpastian atas deviden atau bunga dari penjualan, atau dari saham atau hutang.

3)      Menyediakan informasi mengenai sumber-sumber ekonomi perusahaan, klaim atas sumber-sumber daya tersebut (kewajiban perusahaan mentransfer sumber pada perusahaan lain dan pemilik saham), efek transaksi, peristiwa dan hal-hal yang mengubahnya.

 

Menurut Standar Akuntansi Keuangan (SAK) No.1 adalah Menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi.

Tujuan umum laporan keuangan (Mamduh dan Halim, hal. 30-33, 2005):

1)      Menyediakan informasi yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan

2)      Menyediakan informasi untuk memperkirakan aliran kas untuk pemakai eksternal

3)      Menyediakan informasi yang bermanfaat untuk memperkirakan aliran kas perusahaan

4)      Menyediakan informasi mengenai sumberdaya ekonomi dan klaim terhadap sumberdaya tersebut

5)      Menyediakan informasi mengenai pendapatan dan komponen-komponennya

6)      Menyediakan aliran  kas

 

  1. 3.      BENTUK  LAPORAN KEUANGAN

             I.            Neraca

            Neraca(Kiesso;1999) yang kadang-kadang disebut juga laporan posisi keuangan melaporkan aktiva,kewajiban,dan ekuitas pemegang saham perusahaan bisnis pada suatu periode tertentu.Laporan keuangan ini menyediakan informasi mengenai sifat dan jumlah investasi dalam sumber daya perusahaan,kewajiban kepada kreditor,dan ekuitas pemilik dalam sumber daya bersih

Elemen-elemen neraca dapat digolongkan sebagai berikut:

  1. Aktiva(Asset):

Aktiva(Hery;2009) merupakan sumber daya yang mempunyai potensi memberikan manfaat ekonomis pada perusahaan di masa mendatang. Pada dasarnya aktiva dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian:

a)      Aktiva lancar

Aktiva Lancar(Hery;2009)Adalah uang kas dan aktiva lainnya yang dapat diharapkan untuk dicairkan atau ditukarkan menjadi uang tunai paling lama satu tahun atau dalam perputaran kegiatan perusahaan yang normal. Yang termasuk kelompok aktiva lancar yaitu kas,Investasi jangka pendek,piutang wesel,piutang dagang,persediaan,piutang penghasilan dan biaya yang dibayar dimuka.

b)      Aktiva tidak lancar

Aktiva Tidak Lancar(Hery;2009)Adalah aktiva yang mempunyai umur kegunaan relatif permanen atau jangka panjang (mempunyai umur ekonomis lebih dari satu tahun atau tidak akan habis untuk satu kali putaran operasi perusahaan). Yang termasuk aktiva tidak lancar adalah:

                                i.            Aktiva tetap(Hery;2009) adalah kekayaan yang dimiliki perusahaan yang fisiknya nyata.misalnya tanah,bangunan,mesin,kendaraan.aktiva tetap selain tanah akan disusut salama jangka waktu/umur kegunaannya.

                              ii.            Aktiva tidak berwujud(Hery;2009) adalah kekayaan perusahaan yang secara fisik tidak tampak tetapi merupakan suatu hak yang mempunyai nilai dan dimiliki oleh perusahaan untuk digunakan dalam kegiatan perusahaan. Misalnya hak cipta, merek dagang, biaya pendirian ,goodwill dan yang lainnya.

                            iii.            Aktiva lain(Hery;2009) adalah menunjukkan kekayaan atau aktiva perusahaan  yang tidak dapat atau belum dapat dimasukkan dalam klasifikasi-klasifikasi sebelumnya, misalnya gedung dalam proses, tanah dalam penyelesaiaan, piutang jangka panjang dan sebagainya.

 

  1. Hutang(Liability)

           Hutang(Hery;2009)Adalah semua kewajiban keuangan perusahaan kepada pihak lain yang belum terpenuhi,dimana hutang ini merupakan sumberdana atau perusahaan yang berasal dari kreditor. Hutang perusahaan dapat dibedakan kedalam:

                                i.           Hutang lancar (hutang jangka pendek )(Hery;2009) adalah kewajiban keuangan perusahaan yang pelunasannya atau pembayarannya akan dilakukan dalam jangka pendek (selama satu tahun) dengan menggunakan aktiva lancar yang dimiliki oleh perusahaan. misalnya: hutang dagang, hutang wesel, hutang pajak dan lain sebagainya.

 

                              ii.            Hutang jangka panjang(Hery;2009) adalah kewajiban keuangan dan jangka waktu pembayarannya (jatuh temponya) masih jangka panjang (lebih dari satu tahun sejak tanggal neraca) misalnya:hutang obligasi,hutang hipotik adalah hutang yang dijamin dengan aktiva tetap tertentu,pinjaman jangka panjang yang lain.

 

  1. Modal (Equity)

      Modal(Hery;2009)Merupakan hak atau bagian yang dimiliki oleh pemilik perusahaan yang ditunjukkan dalam pos modal (modal saham) dan laba yang ditahan.

                         

Neraca dapat berbentuk sekontro dan taffel:

        i.            Akun T ( sekontro ) yaitu bentuk neraca  dengan kelompok harta dicatat di sisi kiri dan kelompok utang  serta modal disisi kanan

      ii.            Laporan  ( staffel ) yaitu bentuk neraca dengan kelompok harta dicatat paling atas diikuti kelopok utang kemudian disusul oleh modal.

Tujuan Penyusunan Neraca:

        i.            Memprediksi kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban yang akan segera jatuh tempo lewat aktiva lancar yang dimilkinya

      ii.            Memprediksi kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajibanjangkapendek lewat aktiva yang dapat dikonversi menjadi kas tanpa mengalami kesulitan

    iii.            Mempersiapkan kebutuhan dana jangka panjang untuk memenuhi kewajiban tidak lancar

    iv.            Memprediksi jumlah kreditor atas aktiva perusahaan

      v.            Memprediksi jumlah pemilik dana/investor atas aktiva perusahaan

    vi.            Memperoleh gambaran mengenai besarnya komposisi aktiva tetap terhadap total aktiva

  vii.            Memperoleh gambaran mengenai jumlah perbandingan antara total kewajiban dengan total aktiva

 

 

 

 

          II.            Laporan Laba Rugi

         Laporan Laba Rugi(Hery;2009) Adalah suatu laporan keuangan yang meyajikan informasi mengenai seluruh hasil operasi ( pendapatan ) dan beban yang dikeluarkan (beban usaha ) dalam kegiatan selama suatu periode tertentu dalam rangka memperoleh laba.

Elemen-elemen Laporan Laba Rugi:

                                      i.            Pendapatan

Pendapatan adalah arus masuk aktiva / peningkatan lainnya atas aktiva

                                    ii.            Beban

Beban adalah aruskeluar aktiva/ penggunaan lainnya atas aktiva

                                  iii.            Keuntungan

Keuntungan adalah kenaikan dalam ekuitas

                                  iv.            Kerugian

Kerugian adalah Penurunan dalam ekuitas

 

 

Bentuk – bentuk laporan laba rugi:

  1. Betuk single step yaitu dengan menggabungkan semua penghasilan menjadi satu kelompok dan semua biaya dalam satu kelompok, sehingga untuk menghitung rugi/ laba bersih hanya memerlukan satu langkah yaitu mengurangkan total biaya terhadap total penghasilan.
  2. Bentuk multiple step dalam bentuk ini dilakukan pengelompokan yang lebih teliti sesuai dengan prinsip yang digunakan secara umum.

 

 

 

 

 

       III.             Laporan Perubahan Modal

            Laporan perubahan moda(Hery;2009)l adalah suatu laporan keuangan yang menyajikan informasi mengenai perubahan modal suatu perusahaan yang terjadi selama periode tertentu.

Tujuan penyusunan laporan perubahan modal:

                                            i.            Mengikhtisarkan aktivitas pembiyaan dan investasi suatu perusahaan,termasuk seberapa jauh perusahaan tersebut telah menghasilkan dana dari usaha selama periode yang bersangkutan.

                                          ii.            Melengkapi pengungkapan mengenai perubahan modal posisi keuangan selama periode tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Contoh neraca bentuk skontro ( T ) pada perusahaan dagang:

 

COMPUTER KING

N e r a c a

31 desember 2012

 

AKTIVA

AKTIVA LANCAR:

Kas  ………………………………. ..  xxx

Wesel pitang usaha…………………     xxx

Piutang bunga…………………….. ..   xxx

Persediaan barang dagang………….. …   xxx

Perlengkapan kantor …………………..    xxx

Asuransi dibayar dimuka………………    xxx

Total aktiva lanca………………..      xxx

AKTIVA TETAP:

Tanah ………………………….. ……….  xxx

Peralatan toko………………….. xxx

Dikurangi akumulasi penyusutan .xxx xxx   

Peralatan kantor………………….xxx

Dikurangi akumulasi penyusutan…xxx xxx 

 

Total aktva………………………………         xxx

PASIVA

HUTANG LANCAR:

Utang usaha……………………       xxx

Wesel bayar (bagian lancar)……      xxx

Utang gaji………………………      xxx

Sewa diterima dimuka…………       xxx

               Total hutang lancar……………….  xxx

HUTANG JANGKA PANJANG:

Wesel bayar (jatuh tempo 2015). xxx

                 Total hutang………………….   xxx

MODAL:

Modal pat king……………………   xxx

 

 

 

Total  pasiva………………………………..    xxx

 

Sumber:  prinsip-prinsip akuntansi, C. Rollin Niswonger, CPA, Ph.D, LLD dkk: 1999

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Contoh neraca bentuk  laporan  (staffel) perusahaan dagang:

Computer king

N e r a c a

31 besember 2012

Aktiva

  Aktiva lancar:

Kas………………………………………………………………………………  xxx

Wesel pitang usaha……………………………………………………………… xxx

Piutang bunga…………………………………………………………………….xxx

Persediaan barang dagang………………………………………………………… xxx

Perlengkapan kantor ………………………………………………………………xxx

Asuransi dibayar dimuka…………………………………………………………  xxx+

Total aktiva lancar………………………………………………………………………xxx

Properti,bangunan,dan peralatan

Tanah …………………………………………………………………………………xxx

Peralatan toko……………………………………………………………… xxx

Dikurangi akumulasi penyusutan ………………………………………xxx–   xxx

Peralatan kantor……………………………………………………………..xxx

Dikurangi akumulasi penyusutan………………………………………..xxx–   xxx+

Total property,bangunan dan peralatan…………………………………………    xxx+

Total aktva…………………………………………………………………………………… xxx

Kewajiban

Kewajiban lancar:

Utang usaha………………………………………………………………………. xxx

Wesel bayar (bagian lancar)……………………………………………………….xxx

Utang gaji………………………………………………………………………….xxx

Sewa diterima dimuka……………………………………………………………..xxx+

Total kewajiban lancar…………………………………………………………….xxx

Kewajiban jangka panjang:

Wesel bayar (jatuh tempo 2015)…………………………………………………………..xxx+

Total kewajiban……………………………………………………………………………….xxx

 Ekuitas pemilik

Modal pat king…………………………………………………………………………………xxx+

Total kewajiban dan ekuitas pemilik……………………………………………………………xxx

 

Sumber:  prinsip-prinsip akuntansi, C. Rollin Niswonger, CPA, Ph.D, LLD dkk: 1999

 

 

 

 

 

 

Cotoh laporan Rugi – Laba langsung (single step ) perusahaan dagang:

 

COMPUTER KING

Laporan Rugi-Laba

Utuk tahun yang berakhir 31 desember 2012

 

Pendapatan :

Penjualan bersih ………………………………………………xxx

Pendapatan bunga……………………………………………. xxx

Pendapatan sewa …………………………………………….. xxx +

     Total pendapatan……………………………………… xxx

 

Beban :

Harga pokok penjualan……………………………xxx

Beban penjualan…………………………………..xxx

Beban administrasi………………………………. xxx

Beban bunga……………………………………… xxx+

     Total beban……………………………………………xxx

Laba bersih……………………………………………………….xxx

 

Sumber:  prinsip-prinsip akuntansi, C. Rollin Niswonger, CPA, Ph.D, LLD dkk: 1999

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Contoh laporan laba rugi bertahap atau multiple step perusahaan dagang:

COMPUTER KING

Laporan laba – rugi

Untuk tahun yang berakhir 31 desember 2012

Pendapatan dari penjualan :

Penjualan………………………………………………………….. xxx

Dikurangi: retur dan potongan penjualan………………… xxx

Diskon penjualan………………………………. xxx+    xxx-

Penjualan bersih…………………………………………………. xxx

Harga pokok penjualan………………………………………………….. xxx

Laba kotor…………………………………………………………………xxx

 

Beban operasi:

Beban penjualan:

Beban gaji penjualan………………………………………  xxx

Beban iklan………………………………………………….xxx

Beban penyusutan peralatan toko……………………………xxx

Beban penjualan rupa-rupa…………………………………. xxx+

Total beban penjualan…………………………………………… xxx

Beban administrasi:

Beban gaji  kator……………………………………………  xxx

Beban sewa………………………………………………..    xxx

Beban penyusutan peralatan kantor ………………………… xxx

Beban asuransi ……………………………………………… xxx

Beban perlengkapan kantor …………………………………  xxx

Beban penjualan rupa –rupa………………………………      xxx+

Total beban administrasi………………………………………….  xxx+

Total beban operasi………………………………………………         xxx

Laba dari operasi…………………………………………………………       xxx

Pendapatan lain-lain:

Pendapatan bunga…………………………………………… xxx

 pendapatan sewa……………………………………………. xxx+

total pendapatan lain-lain…………………………………………xxx

beban lain-lain:

beban bunga………………………………………………………  xxx–  xxx+

laba bersih…………………………………………………………………….. xxx

 

Sumber:  prinsip-prinsip akuntansi, C. Rollin Niswonger, CPA, Ph.D, LLD dkk: 1999

 

 

contoh laporan perubahan modal perusahaan dagang:

COMPUTER KING

laporan perubahan modal

untuk tahun yang berakhir 31 desember 2012

 

modal pat king 1 januari 2012……………………………………………  xxx

laba bersih selama setahun…………………………………………  xxx

dikurangi penarikan………………………………………………..   xxx

kenaikan ekuitas pemilik………………………………………………….. xxx+

modal pat king 31 desember 2012………………………………………… xxx

 

 

Sumber:  prinsip-prinsip akuntansi, C. Rollin Niswonger, CPA, Ph.D, LLD dkk: 1999

 

 

 

  1. 4.      PENGAKUAN DAN PENGUKURAN LAPORAN KEUANGAN

Pengakuan (SAK, para 82-83, 2009) merupakan proses pembentukan suatu pos yang memenuhi defenisi unsur serta kriteria yaitu:

  1. Ada kemungkinan bahwa manfaat ekonomi yang berkaitan denganpos tersebut akanmengalir dari atau ke dalam perusahaan
  2. Pos tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal.

 

Pengukuran (SAK, para. 99-100, 2009) adalah proses penetapan jumlah uang untuk mengakui dan memasukkan setiap unsur laporan keuangan dalam neraca dan laporan laba rugi. Dasar pengukuran adalah:

  1. Biaya Historis (historical cost)

Asset dicatat pada saat perolehan sebesar pengeluaran kas (setara kas) dan kewajiban dicatat sebesar jumlah yang diterima sebagai penukar dari kewajiban (obligation) atau dalam keadaan tertentu (misalnya pajak penghasilan), dalam jumlah kas (setara kas) yang diharap   akan dibayarkanuntuk memenuhi kewajiban dalam pelaksanaan usaha yang normal

  1. Biaya Kini (current cost)

Aset dinilai pada saat perolehan sekarang, dan kewajiban dinilia pada saat menyelesaikan kewajiban sekarang

  1. Nilai Realisasi/ Penyelesaian (realizable/ settlement value)

Aset dinyatakan dalam jumlah kas (atau setara kas) yang dapat diperoleh sekarang dengan menjual asset dlaam pelepasan normal, kewajiban untuk memenuhi kewajiban dalam pelaksanaan usaha normal

  1. Nilai Sekarang (present value)

Aset dinyatakan sebesar arus kas masuk bersih di masa depan yang didiskontokan ke nilai sekarang dari pos yang diharapkan dapa memberikan hasil dalam pelaksanaan usaha normal. Kewajiban dinyatakan sebesar arus kas keluar bersih di masa depan yang didiskontokan ke nilai sekarang yang diharapkan akan diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban dalampelaksanaan usaha normal

  1. 5.      KERANGKA DASAR KONSEPTUAL UNTUK AKUNTANSI KEUANGAN

          Menurut Hery, (2009) Kerangka Dasar Konseptual ( Conceptual framework ) adalah suatu set konsep yang menjadi dasar dari seperangkat Peraturan dan Standar akuntansi yang saling berhubungan. Ada 4 kerangka dasar Akuntansi yang digunakan untuk mencatat transaksi:

                                  i.       Prinsip Biaya Historis

    Transaksi dicatat sebesar harga perolehan pada saat terjadinya transaksi

                                ii.       Prinsip Pengakuan Pendapatan

     Kerangka Dasar Konseptual FASB mengidentifikasi 2 kriteria (Hery: 2009), yang seharusnya dipertimbangkan dalam menentukan kapan pendapatan harus di akui, yaitu: (1) telah direalisasi atau dapat direalisasi. (2) telah dihasilkan atau telah terjadi.

                              iii.       Prinsip Penandingan

    Mempertemukan biaya dengan pendapatan yang timbul karena biaya tersebut

                              iv.       Prinsip Pengungkapan Penuh

           Agar pelaporan keuangan menjadi lebih efektif, seluruh informasi yang relevan seharusnya dengan cara yang tidak memihak, dapat dipahami dan tepat waktu, dalam arti harus Menyajikan informasi yang lengkap dalam laporan keuangan.

            kerangka dasar konseptual untuk Akuntansi digunakan sebagai acuan bagi :

  1. Komite penyusunan laporan keuangan dalam melaksanakan tugasnya
  2. Auditor dalam memberikan pendapat mengenai apakah laporan keuangan telah sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umuim
  3. Para pemakai laporan keuangan dalam menafsirkan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan

 

 

 

 

 

 

  1. 6.    KARAKTERISTIK KUALITATIF  LAPORAN  KEUANGAN

Menurut SFAC no. 2 Qualitative Characteristics of Accounting Information adalah sbb:

  1. Understanbility
  2. Relevance
  3. Reliabiity
  4. Neutrality
  5. Comparability
  6. Consistency
  7. Materiality
  8. Cost and Benefits

 

Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia adalah sbb:

  1. Dapat dipahami

 

  1. Relevan

Informasi memiliki kualitas relevan kalau dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pengguna dengan membantu mengevaluasi perististiwa masa lalu, masa kini atau masa depan, menegaskan atau mengoreksi, hasil evaluasi pengguna di masa lalu.

 

  1. Materialitas

Informasi dipandang material kalau kelalaian untuk mencantumkan atau kesalahan dalam mencatat informasi tersebut dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pengguna yang diambil atas dasar laporan keuangan. Materialitas bergantung pada besarnya pos atau kesalahan yang dinilai sesuai dengan situasikhusus dai kelalaian dalam mencantumkan (omission) atau kesalahan dalam mencatat (misstatement).

  1. Keandalan

Yaitu informasi yang bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material dan dapat diandalkan penggunanya sebagai penyajian yang tulus atau jujur (faithful representation) dari yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar diharapkan dapat disajikan

 

 

  1. Penyajian jujur

Informasi menggambarkan transaksi jujur dan wajar.

 

  1. Substansi mengungguli bentuk

Transaksi atau peristiwa dicatat dan disajikan sesuai dengan substansi dan realitas ekonomi dan bukan hanya bentuk hukumnya. Substansi transaksi atau peristiwa lain tidak selalu konsisten dengan yang tampak dari bentuk hokum.

 

  1. Netralitas

Tidak boleh ada usaha untuk menyajikan informasi yang menguntungkan beberapa pihak

 

  1. Pertimbangan sehat

Pertimbangan sehat mengandung unsure kehati-hatian pada saat kondisi ketidakpastian, sehingga asset tidak dinyatakan terlalu tinggi dan kewajiban dinyatakan terlalu rendah serta tidak memperkenan pembentukan cadangan tersembunyi atau penyisihan (provision) berlebihan.

 

  1. Kelengkapan

Informasi harus lengkap dalam batasan materialitas dan biaya

  1. Dapat dibandingkan

Laporan keuangan harus dapat dibandingkan antar periode untuk identifikasi trend posisi dan kinerja keuangan.

 

  1. 7.      KETERBATASAN DALAM LAPORAN KEUANGAN

Laporan Keuangan (Hery: 2009) memiliki keterbasan antara lain :

  1. Laporan keuangan yang dibuat secara periodik pada dasarnya merupakan intern report ( laporan yang dibuat antara waktu tertentu yang sifatnyasementara ) dan bukan merupakan laporan final. Karena itu semua jumlah –jumlah atau hal – hal yang dilaporkan dalam laporan keuangan tidak menunjukan nilai likuidasi atau realisasi dimana dalam laporan ini terkandung pendapat pribadi yang telah dilakukan oleh Akuntan atau Manajemen yang bersangkutan.
  2. Laporan keuangan menunjukan angka dalam rupiah yang kelihatannya bersifat pasti dan tepat, tetapi sebenarnya dasar penyusunannya dengan standar nilai mungkin berbeda atau berubah.
  3. Laporan keuangan disusun berdasarkan hasil pencatatan transaksi keuangan atau nilai rupiah berbagai waktu atau tanggal yang lalu dimana daya beli uang tersebut semakin menurun, dibandingkan dengan tahun – tahun sebelumnya sehingga kenaikan volume penjualan yang dinyatakan dalam rupiah belum tentu menunjukan unit yang terjual semakin besar, mungkin kenaikan itu disebabkan karena naiknya harga jual barang tersebut yang mungkin juga diikuti kenaikan tingkat harga – harga.

 

  1. Laporan keuangan tidak dapat mencerminkan berbagai faktor yang dapat mempengaru posisi atau keadaan keuangan perusahaan karena faktor – factor tersebut tidak dapat diukur dengan satuan uang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

KESIMPULAN

Laporan Keuangan adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk mengkomunikasikan data keuangan atau aktivitas perusahaan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

Menurut Statement of Financial Accounting Concept (SFAC) No. 1 (Financial Accounting Standard Board/ FASB  tahun 1978) :

  1. Menyediakan informasi yang berguna bagi investor dan kreditur serta pihak-pihak lain untuk pembuatan keputusan investasi, kredit dan keputusan lainnya yang  bersamaan
  2. Menyediakan informasi guna membantu investor, creditor dan pengguna lainnya dalam menilai jumlah, ketepatan waktu dan ketidakpastian atas deviden atau bunga dari penjualan, atau dari saham atau hutang.
  3. Menyediakan informasi mengenai sumber-sumber ekonomi perusahaan, klaim atas sumber-sumber daya tersebut (kewajiban perusahaan mentransfer sumber pada perusahaan lain dan pemilik saham), efek transaksi, peristiwa dan hal-hal yang mengubahnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Hery. 2009. Teory Akuntansi. 1st Edition.Kencana: Jakarta

 

Belkaoui, Ahmed Riahi.2000.Teori Akuntansi. 1st Edition. Salemba Empat: Jakarta

 

Kieso, Donald E dkk.2004. Intermediate accounting. 11th Edition. John Wiley & Sons, Inc.:  USA

 

Fess, Philip E dkk. 1999. Prinsip-Prinsip Akuntansi. Erlangga: jakarta

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

tren akuntansi

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Akuntansi sebagai ilmu terus beradaptasi dengan lingkungan sosial ekonomi dimna ia berada, sehingga perkembangan sosial ekonomi juga mempengaruhi perkembangan ilmu ekonomi itu sendiri. Teori akuntansi merupakan guidance yang mengarahkan perkembangan itu sendiri sehingga tetap berada dalam kerangka teoritis yang sudah disepakati. Kejadian itupun dengan terjadinya revolusi ilmu pengetahuan seperti yang digambarkan oleh Kuhn maupun popper bisa saja muncul perkembangan yang sama sekali keluar dari kerangka teori yang sudah menjadi konvensi.

Dalam permasahalan ini kami membahas beberapa tren dalam akuntansi yang merupakan arah yang kemungkinan akan dituju oleh ilmu akuntansi atau bisa tidak sampai mencapainya. Namanya tren hanya menunjukkan kecenderungan yang dilihat saat ini. Kenyataannya akan terbukti kemudian. Tugas akademis dan profesional adalah untuk bermimpi,melihat, menganalisis  dan ikut mengembangkan tren itu sehingga menjadi konvensi dan menambah manfaat ilmu itu membantu masyarakat secara luas.

Riset akuntansi adalah upaya yang dilakukan untuk mencari kebenaran dibidang akuntansi. Hasil riset ini merupakan penyambung antara fenomena sosial dibidang akuntansi dengan sturuktur teori akuntansi. Fenomena sosial itu dituangkan dalam berbagari bentuk “statment ilmiah” sehingga menjadi teori. Teori ini bisa manjelaskan tentang kebenaran yang sudah ada (deskriptif), mendukung teori yang ada (justifikasi), mengingkari kebenaran yang sudah lama (refute), atau ingin memanggung teori baru. Usaha-usaha yang dilakukan dalam mencari kebenaran ini dimaksudkan untuk mengembangkan disiplin akuntansi ini sehingga lebih bermanfaat bagi masyarakat.

Pada awalnya, proses mencari kebenaran itu dimulai dari cara dogmatis dimana kebenaran itu berasal dari orang atau pihak atau lembaga yang diberi dan diyakini memiliki otoritas menetapkan kebenaran. Kemudian cara ini berkembang dan menggunakan cara normatif dengan menggunakan logika ilmiah, pemikiran sehat. Kemudian berkembang dan kemudian menggunakan metode empiris dengan titik berat melihat kenyataan yang ada dilapangan (fenomena sosial). Didalam sistem yang terakhir inilah yang menjadi ajang dari penelitian ilmiah. Sudah merupakan suatu kesepakatan masyarakat akademisi bahwa proses penelitian ini harus mengikuti aturan-aturan atau konvensi yang diikuti  oleh semua pihak sehingga kualitas hasil penelitian itu terjamin. Perkembangan ilmu akuntansi yang demikian cepat akhir-akhir ini didasarkan pada proses penelitian ini. Berbagai teori muncul, teori lama di-refute, dan teori baru dibangun.

Peningkatan ekonomi pada suatu organisasi dapat digunakan untuk menjadi dasar dalam memilih informasi yang relevan terhadap pengambilan keputusan. Keterampilan matematis sekarang ini telah berperan dalam menganalisis permasalahan keuangan yang kompleks. Begitu juga dengan kemajuan dalam teknologi komputer akuntansi yang memungkinkan informasi yang tersedia dengan cepat. Tetapi, seberapa canggih pun prosedur akuntansi yang ada, informasi yang dapat disediakan pada dasarnya bukanlah tujuan akhir.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Tren Akuntansi

Adolf J.H. Enthoven (1995) dalam Accounting Research Monograph No. 5 dengan judul Mega Accountancy Trends, berdasarkan  Mega Trend 2000-nya Naisbitt dalam Harahap (2008), ia mereflesikan megatrend akuntansi akan menghadapi persoalan sebagai berikut :

  1. Perlunya akuntansi memberikan pengukuran efisiensi dan produktivitas.
  2. Perlunya keterpaduan akuntansi dengan bidang dan disiplin lainnya.
  3. Perlunya mengidentifikasi, mengukur, dan melaporkan informasi yang relevan.

Kualitas relevan sudah menjadi ciri akuntansi, namun sampai saat ini kualitas ini belum dapat dinilai tercapai.

Kemudian untuk mengantisipasi tren tersebut di atas maka Ethoven menganjurkan penyempurnaan insfrastruktur akuntansi agar bisa memenuhi tuntutan tren tersebut.

 

  1. Penyempurnaan system pendidikan, pelatihan, dan riset dalam bidang akuntansi.
  2. Struktur dan persyaratan sosio ekonomi dan budaya.
  3. Persyaratan legal, status, dan persyaratan lainnya.
  4. Praktek profesi dan kelembagaan akuntansi.

Trend itu yang dibuat Ethoven ini beranjak dari megatrend-nya naisbitt yaitu :

  1. Dunia akan bergerak dari ekonomi nasional ke ekonomi global.
  2. Dasar pemikiran orang akan beralih dari skup jangka pendek ke skup jangka panjang.
  3. Ciri masyarakat kita akan beralih dari masyarakat industry ke masyarakat informasi.
  4. Struktur organisasi akn berubah dari yang bersifat hierarki dengan inti kekuasaan ke struktur organisasi yang bersifat jaringan atau net-working, kekuasaan sudah tidak dikedepankan lagi.
  5. Pilihan semakin banyak sehingga masyarakat beralih dari dua pilihan ke pilihan banyak.
  6. Pertumbuhan ekonomi akan beralih dari dunia bagian utara ke bagian selatan.
  7. Keterlibatan politik masyarakat akan beralih dari demokrasi perwakilan ke democrasi partiisipasi.
  8. Dari bantuan institusi ke mandiri 
  9. Kemajuan teknologi akan beralih dari teknologi keras ke teknologi lunak.
  10. Kekuasaan akan beralih dari sebtralisasi ke desentralisasi.

 

Kesepuluh shift inilah yang dijadikan dasar oleh Enthoven untuk memprediksi pengaruh tren itu ke dalam profesi dan bidang ilmu akuntansi.

2.2. Akuntansi Perilaku (Aspek Perilaku dalam Akuntansi)

Para akuntan keperilakuan memusatkan perhatian mereka pada hubungan antara perilaku dan system akuntansi. Mereka menyadari bahwa proses akuntansi melibatkan ringkasan dari sejumlah kejadian ekonomi makro yang dihasilkan dari perilaku manusia dan akuntansi itu sendiri, serta dari beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku, yang pada gilirannya secara bersama-sama akan menentukan semua keberhasilan peristiwa ekonomi.

Para akuntan keperilakuan melihat kenyataan bahwa perusahaan yang melakukan penjualan terlebih dahulu mempertimbangkan perilaku juru tulis yang mencatat pesanan pelanggan melalui telepon. Para juru tulis tersebut harus menyadari bahwa tujuan mereka melakukan pekerjaan itu adalah untuk kelangsungan hidup organisasi.

Pengenalan hubungan tibal balik antara alat akuntansi dan perilaku telah memunculkan modifikasi atas definisi akuntansi konvensional. Definisi akuntansi terbaru dalam lingkungan professional akademis menyiratkan komunikasi dan pengukuran data ekonomi untuk berbagai pengambilan keputusan serta sasaran hasil keperilakuannya.  Berikut adalah prinsip etika profesi Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) :

  1. Tanggung Jawab Profesi

Dalam melaksanakan tanggung-jawabnya sebagai profesional setiap anggota harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua kegiatan yang dilakukannya.

 

 

  1. Kepentingan Publik

Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka pelayanan kepada publik, menghormati kepercayaan publik, dan menunjukkan komitmen atas profesionalisme.

 

  1. Integritas

Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik, setiap anggota harus memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin.

 

  1. Obyektivitas

Setiap anggota harus menjaga obyektivitasnya dan bebas dari benturan kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya.

 

  1. Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional

Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya tkngan kehati-hatian, kompetensi dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan dan keterampilan profesional pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan bahwa klien atau pemberi kerja memperoleh matifaat dari jasa profesional yang kompeten berdasarkan perkembangan praktik, legislasi dan teknik yang paling mutakhir.

 

  1. Kerahasiaan

Setiap anggota harus, menghormati kerahasiaan informasi iyang diperoleh selama melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau kewajiban profesional atau hukum untuk mengungkapkannya.

 

  1. Perilaku Profesional

Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi.

  1. Standar Teknis

Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan standar teknis dan standar proesional yang relevan. Sesuai dengan keahliannya dan dengan berhati-hati, anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan penugasan dari penerima jasa selama penugasan tersebut sejalan dengan prinsip integritas dan obyektivitas.

2.3. Beberapa Topik Baru dalam Akuntansi

Perkembangan terakhir yang masih terus menjadi bahan riset dan pengembangan bidang akuntansi yang menjadi tren di antaranya adalah:

 

  1. Akuntansi internasional atau akuntansi global;

Menurut Weirich dkk.,(Belkaoui, 1985) dalam Harahap (2005) mendefinisikan akuntansi internasional sebagai berikut: Mencangkup semua perbedaan prinsip, metode, dan standar akuntansi semua Negara, Termasuk didalamnya prinsip akuntansi (GAAP) yang ditetapkan ditiap Negara. Setiap akuntan harus menguasai semua prinsip disemua Negara jika mempelajari akuntansi internasional. Tidak ada maksud untuk memiliki prinsip yang berlaku umum sedunia. Perbedaan ini diakui karena ada perbedaan geografi, sosial, ekonomi, politik, dan hukum. 

 

  1. Akuntansi Islam;

Dalam al-quran surat al-al baqarah ayat 282 merupakan ayat banyak menjelaskan tentang akuntansi, dan menurut Prof. Dr. Hamka dalam tafsir Al-Azhar  juz 3 tentang surat al-baqarah ayat 282 ini mengemukakan beberapa hal yang relevan dengan akuntansi sebagai berikut :

 

Perhatikanlah tujuan ayat! Yaitu kepada sekalian orang yang beriman kepada Allah supaya utang piutang itu ditulis, itulah dia yang berbuat sesuatu pekerjaan karena Allah, karena perintah Allah dilaksanakan. Sebab itu, tidak lah layak berbaik hati kepada kedua belah pihak lalu berkata tidak perlu dituliskan karena kita sudah percaya mempercayai. Padahal umur kedua belah pihak sama-sama ditangan Allah. Si Anu mati dalam berhutang, menagih pada warisnya yang tinggal. Siwaris bisa mengingkari hutang itu karena tidak ada surat perjanjian. 

 

  1. Akuntansi Sumber Daya Manusia;

Belkaoui (1995) mendefinisikan akuntansi SDM sebagai suatu proses mengidentifikasi, mengukur data tentang SDM dan mengkomunikasikan informasi ini kepada pihak lain yang berkepentingan.

4.  Triple entry accounting system;

Kalau dahulu kita mengenal single entry, double entry maka sekarang kita mengenal triple entry. Dalam system ini transaksi dicatat dalam tiga dimensi. Triple entry memiliki force account yang mencatat beberapa factor antara lain perubahan harga, perubahan jumlah, atau perubahan volume terhadap arus hasil dan biaya.

Model ini sebenarnya merupakan upaya untuk menambah informasi kepada pembaca khususnya pihak manajemen dan para pengambil keputusan yang berkepentingan dengan laporan keuangan perusahaan.

  1. Employee Reporting;

Employee reporting merupakan bentuk laporan keuangan yang memuat informasi yang relevan bagi karyawan atau serikat pekerja. Employee reporting sangat berkembang d USA dan Eropa pada khususnya. Bahkan telah diterapkan di beberapa Negara seperti anggota Organization of Economic Cooperation and Development (OECD) seperti USA, Canada, Jerman, Perancis, Denmark, Norwegia, Swedia, dan United Kingdom (Belkaoui, 1995).

Beberapa hal yang mendesak dan mendorong perlunya employee reporting ini adalah (Purdy dalam belkaoui, 1985):

1. Tekanan semakin besar akan perlunya full disclosure;

2. Praktik dan masalah yang berkaitan dengan hubungan perburuhan;

3. Munculnya perdebatan tentang demokratisasi perusahaan;

4. Perkembangan di Negara lain akan perlunya informasi dimaksud.

 

Beberapa informasi pennting yang diminta dilaporkan dalam employee reporting ini adalah:

 

  1. Jumlah pegawai.
  2. Lokasi tempat bekerja.
  3. Umur karyawan.
  4. Jam kerja.
  5. Biaya tebaga kerja.
  6. Program pension.
  7. Program jaminan social, kecelakaan kerja, kesehatan, hari tua.
  8. Pelatihan dan pendidikan atau adanya career path.
  9. Pengakuan terhadap serikat pekerja.
  10. Daftar karyawan berdasarkan agama, suku, bangsa, kelamin.
  11. Dan sebagainya.

 

  1. Value Added Reporting

Value Added Reporting (VAR) atau Laporan Pertambahan Nilai adalah modifikasi dari Laporan Laba Rugi sehingga pada dasarnya dapat disusun dengan menggunakan laporan laba rugi ini. Langkah yang di ikuti dalam menyusun laporan pertambahan nilai dari laporan laba rugi adalah (Belkaoui, 2011):

Langkah 1:

Disini dihitung Laba Ditahan yang didapat dari Hasil Penjualan dikurangi Biaya, Pajak, Dividen, atau: Penerimaan Penjualan                              Rp ……….

Dikurangi:Pembelian Barang dan Jasa                                         Rp ……….

Penyusutan                                                                                   Rp ……….

Biaya karyawan                                                                           Rp ……….

Biaya Bunga                                                                                Rp ……….

Dividen                                                                                        Rp ……….

Pajak                                                                                            Rp ……….

Total Pengurangan                                                                       Rp ………

Laba Ditahan                                                                              Rp ……….

Langkah 2:

Laporan Pertambahan Nilai ini dapat dosusun dari data di atas dengan format sebagai berikut:

Penerimaan Penjualan                                                                  Rp ……….

Dikurangi: Pembelian Barang dan jasa                                        Rp ……….

Pertambahan Nilai Kotor                                                             Rp ……….

Pertambahan Nilai ini dirinci sbb:

Penyusutan                                                                                   Rp ……….

Biaya karyawan                                                                           Rp ………

Biaya bunga                                                                                 Rp ……….

Dividen                                                                                        Rp ……….

Pajak                                                                                            Rp ……….

Total Pertambahan nilai                                                               Rp ……….

Beberapa kegunaan dari Value Added Reporting ini dapat disebut sebagai berikut:

  1. Konsep ini dinilai objektif sehingga dianggap sebagai informasi yang absah sebagai dasar perhitungan reward.
  2. Pertambahan nilai kotor merupakan informasi yang sangat berguna untuk memgetahui angka reinvestasi (laba ditahan dan penyusutan).
  3. Laporan ini dianggap dapat menjembatani kepentingan akuntansi danekonomi dengan jumlah kekayaan dalam pengukuran pendapan nasional.

 

Namun, di samping keunggulannya ada juga beberapa keterbatasan laporan pertambahan nilai ini, yaitu sebagai berikut:

 

  1. Tidak semua pihak yang terlibat dalam menghasilkan pertambahan nilai itu merasa senang bekerja sama dengan yang lain.
  2. Ada kemungkinan dengan adnya laporan pertambahan niali ini manajemen salah tanggep seolah ingin memaksimasi pertmabhan niali.
  3. Kesalahan penafsiran terhadap pertambahan nilai dapat menimbulkan kepalsuan pendapat.

 

7. Akuntansi Perilaku;

Dalam akuntansi perilaku ini yang menjadi sorotan adalah dampak dari informasi akuntansi terhadap perilaku orang yang membaca atau menyiapkannya. Juga melihat bagaimana reaksi manusia terhadap informasi yang akuntansi yang diberikan. Dampak perilaku dari system budget terhadap prilaku, dampak system responsibility accounting terhadap oerilaku, dampak system desentralisasi ataupun sentralisasi pengambilan keputusan terhadap perilaku, dimensi perilaku dalam system pengawasan internal, beberapa pola perilaku auditor, aspek perilaku dalam proses pengambulan keputusan, factor perilaku dalam kebutuhan pengungkapan, aspek perilaku dalam akuntansi sumber daya manusia, dan sebagainya.

Lebih simple Siegel, Ramanauskas, dan Marconi (1989) dalam Harahap (2008) membaginya atas tiga bagian besar berikut ini:

  1. Pengaruh perilaku manusia terhadap desain, kontruksi, dan penggunaan system akuntansi.
  2. Pengaruh system akuntansi terhadap perilaku manusia.
  3. Metode untuk meramalkan dan strategi untuk mengubah perilaku manusia.

 

 

 

8. Multi Diciplines Paradigm;

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mengakibatkan semakin munculnya paradigm baru yang pada akhirnya menimbulkan ketergantungan dan keterkaitan yang semakin erat antara satu disiplin ilmu dengan disiplin ilmu lainnya. Fenomena ini juga melanda akuntansi.

Mulanya ilmu yang dikenal manusia adalah ilmu filsafat. Menurut Al-Farabi, ilmu filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam yang maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya (Anshari, 1991). H.Endang Saifuddin Anshari (1991) mengungkapkan ilmu itu kemudian berkembang menjadi tiga bidang:

  1. Ilmu Pengetahuan Alam (Natural science):

1)      Biology

2)      Antropologi fisik

3)      Kedokteran

4)      Farmasi

5)      Pertanian

6)      Ilmu Pasti

7)      Ilmu Alam

8)      Teknik

9)      Geologi, dan lain-lain.

 

  1. Ilmu Sosial (Social Science):

1)      Ilmu Hukum

2)      Ekonomi

3)      Jiwa Sosial

4)      Bumi Sosial

5)      Sociology

6)      Antropologi Sosial Budaya

7)      Sejarah

8)      Politik

9)      Pendidikan

10)  Publisistik dan Jurnalistik

11)  Dan lain-lain.

 

  1. Humaniora (Humanities Science):

1)      Ilmu Agama

2)      Ilmu Filsafat

3)      Ilmu bahasa

4)      Ilmu seni

5)      Ilmu Jiwa (psikologi)

 

9. Akuntansi dan Pembangunan Berkelanjutan;

Dilaksanakannya “Earth Summit” mangingatkan kita pada isu yang sama di ajukan oleh Club of Rome tahun 1975 yang lalu yaitu Konsep Limit to Growth atau sering juga disebut Zero Growth. Club para ahli nomor wahid ini menganggap bahwa kerusakan bumi timbul dari kombinasi dari berbagai factor yang harus direm perkembangannya seperti perkemabangan penduduk, investasi, kkonsumsi sumber alam, industry, ketidakadilan distribusi pendapatan, pertanian, kehutanan. Club ini ingin menyelamaykan masa depan umat manusia dengan mengingatkan kita perlunya keharmonisan pengelolaan ekosistem yang bersifat global dan dependen. Subbab ini ingin mencoba menjelaskan perlunya alat ukur untuk memudahkan para pengambil keputusan dalam memanaje masalah pembangunan, lingkungan, dan aspek social ekonominya.

Untuk mengelola setiap suatu masalah perlu keputusan-keputusan. Keputusan yang baik hanya dapat lahir dari analisis terhadap keadaan yang valid, factual, dan relevan. Keadaan yang factual, valid, dan relevan dapat disupply oleh akuntansi. Dalam akuntansi disiplin yang mensupply ini disebut environment accounting. Disiplin ini secara, teori-teorinya belum sepenuhnya disepakati oleh sebagian besar para ahli akuntansi dan organisasi profesi. Bidang ini sampai saat ini masih terus menjadi ladang penelitian para ahli dan secara parsial, ada yang sudah diwajibkan dan ada yang masih dalam taraf dianjurkan penyajiannya dalam laporan keuangan.

 

Perlunya Akuntansi Lingkungan

Lingkungan keperluan akan akuntansi lingkungan ini sebenarnya sudah jelas. Konsep yang menganggap bahwa perusahaan sebagai wadah hukum yang melakukan eksploitasi dalam suatu wilayah dan Negara dan mendapatkan keuntungan dari kekayaan alam wilayah itu, mestinya juga menjadi penduduk yang baik, yang melindungi alamnya dan juga makhluk pengisinya. Filosofi ini jelas dan rasional. Sebuah industry sebenarnya hidup dari lingkungan. Ya factor alam, tenaga kerja, makhluk lainnya yang mendiami bumi. Adalah etis seandainya perusahaan itu juga yang tergantung dengan makhluk lain sebagai penduduk bumi ikut bertanggung jawab melindungi bumi dari setiap kerusakan lingkungan yang kalau tidak dijaga akhirnya akan merusak dia sendiri sehingga tidak dapat dilakukan pembangunan berkelanjutan atau pembangunan berwawasan lingkungan.

10. Efficient Market Hypothesis (EMH);

Dalam akuntansi dikenal teori atau hipotesis EMH (Efficient Market Hypothesis). Teori EMH ini menyatakan bahwa “Pasar akan menyesuaikan diri dengan setiap informasi baru yang dikeluarkan mengenai saham.” Dalam bahasa penelitian bidang penelitian yang menyangkut soal ini adalah positive accounting teory. Dalam teori ini yang dibahas bukan bagaimana mencatat transaksi, tetapi menyangkut:

1)      Melihat hubungan antara pengumuman informasi akuntansi kepada public dan reaksi pasar terhadap informasi itu yang dilihat dari indicator harga saham di bursa;

2)      Melihat pengaruh perubahan kebijakan akuntansi terhadap harga pasar.

Fama (1969) dalam Harahap (2008) menyatakan bahwa beberapa syarat untuk menciptakan pasar yang efisien adalah sebagai berikut:

  1. Tidak ada biaya transaksi dalam perdagangan saham.
  2. Semua informasi tersedia secara Cuma-Cuma bagi semua peserta pasar.
  3. Semua sepakat terhadap implikasi informasi saat ini terhadap harga sekarang dan distribusi harga masa yang akan dating dari tiap saham.

Menurut Fama informasi ada tiga set informasi:

a)      Gerakan harga saham masa lalu;

b)      Informasi yang tersedia bagi public;

c)      Seluruh informasi baik uang tersedia bagi public maupun milik perusahaan.

Ketiga set informasi di atas dapat memengaruhi harga saham sebagai berikut:

a)      Bentuk lemah (weak form) dari sham efisien.

Di sini harga pasar saham pada periode tertentu secara penuh merupakan refleksi dari informasi yang berasal dari harga harga saham masa lalu. Di sini tidak ada strategi dagang berdasarkan siklus harga, pola harga atau peraturan lainnya.

 

b)      Bentuk semi kuat (semistrong)

Di mana harga saham secara penuh merupakan gambaran dari seluruh informasi yang tersedia kepada public termasuk harga saham masa lalu. Di sini juga tidak ada strategi dagang yang dipakai dalam perdagangan saham.

 

c)      Bentuk kuat (strong form)

            Di mana harga saham merupakan gambaran dari seluruh yang ada baik informasi harga saham yang lalu, informasi yang tersedia untuk public dan informasi lainnya seperti informasi dari dalam dan informasi pribadi nlainnya.

 

           Dari ketiga bentuk ini maka bentuk semistrong-lah yang paling relevan dengan akuntansi karena dasar informasinya adalah informasi yang tersedia bagi public.

Dalam EMH sering digunakan Capital Assets Princing Model (CAPM). Yang dimaksud dengn model CAMP ini adalah suatu model yang menaksir laba yang abnormal atau laba yang tidak diperkirakkab dari saham biasa suatu perusahaan pada saat diumumkannya laba perusahaan. Bentuk semistrong juga dipakai dalam model ini.

 

BAB III

PENUTUP

3.1.Kesimpulan

 

Bahwasannya trend akuntansi itu berdasarkan Mega Trend 2000-nya Naisbitt dalam Harahap (2008), ia mereflesikan megatrend akuntansi akan menghadapi persoalan-persoalan seperti Perlunya akuntansi memberikan pengukuran efisiensi dan produktivitas,perlunya keterpaduan akuntansi dengan bidang dan disiplin lainnya,perlunya mengidentifikasi, mengukur, dan melaporkan informasi yang relevan.

Kemudian untuk mengantisipasi tren tersebut di atas maka Ethoven menganjurkan penyempurnaan insfrastruktur akuntansi agar bisa memenuhi tuntutan tren tersebut yaitu dengan cara penyempurnaan system pendidikan, pelatihan, dan riset dalam bidang akuntansi, struktur dan persyaratan sosio ekonomi dan budaya, persyaratan legal, status, dan persyaratan lainnya, praktek profesi dan kelembagaan akuntansi.

 

Dalam hal ini kami juga membahas tentang akuntansi keperilakuan yang mana dalam makalah kami kami menekankan pada beberapa prinsip etika  profesi Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) yaitu tanggung jawab profesi, kepentingan publik, integritas, obyektivitas, kompetensi dan kehati-hatian profesional, kerahasiaan, perilaku profesional, standar teknis.

 

 

 

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

soal normatif

Soal-soal Teori Akuntansi Positif dan Akuntansi Normatif

  1. Jelaskan pengertian teori akuntansi ?
  2. Sebutkan fungsi teori akuntansi !
  3. Sebutkan dan jelaskan tiga dimensi dari teori akuntansi ?
  4. Sebutkan dan jelaskan periodisasi teroi akuntansi ?
  5. Jelaskan pengertian teori akuntansi positif ?
  6. Jelaskan perbedaan akuntansi positif dan akuntansi normative ?

Jawab:

  1. Teori akuntansi dapat diartikan sebagai suatu susunan konsep, defenisi, dan dalil yang menyajikan secara sistematis gambaran fenomena akuntansi, serta menjelaskan hubungan antar variabel dalam struktur akuntansi, dengan maksud untuk dapat memprediksi fenomena yang muncul (fenomena sosial dan ekonomi).
  2. Fungsi teori akuntansi adalah:
    1. Sebagai pedoman bagi lembaga penyusun standar akuntansi,
    2. Memberikan kerangka acuan dalam menyelesaikan masalah akuntansi yang tidak ada standar resminya,
    3. Meningkatkan pemahaman dan keyakinan pembaca terhadap informasi yang disajikan dalam laporan keuangan,
    4. Agar laporan keuangan dapat diperbandingkan, dan
    5. Memberikan kerangka acuan dalam menilai prosedur dan praktik akuntansi.
    6. Tiga dimensi dari teori akuntansi, yaitu:
      1. Reductionism

Teori di mulai dari asumsi-asumsi, di mana tidak langsung merujuk ke objek yang diobservasi, dan bukan merupakan pernyataan yang dapat diuji kebenarannya. Tetapi teori merupakan bahan rujukan untuk mengamati fenomena.

  1. Instrumentalism

Teori merupakan alat yang dapat digunakan untuk menilai pernyataan tentang hasil dari suatu observasi. Di sini, teori berperan untuk menjelaskan untuk memprediksi.

  1. Realism

Teori adalah sekumpulan proposisi atau dalil yang merupakan pernyataan kebenaran atau ketidakbenaran tentang dunia nyata, fenomena, atau suatu objek.

 

  1. Periodisasi teori akuntansi dapat digolongkan menjadi:
    1. Pre-Theory Period (1492-1800)

Dalam periode ini belum ada teori akuntansi yang dirumuskan, melainkan hanya sebatas pada saran-saran atau pernyataan-pernyataan yang tidak dapat dianggap sebagai teori.

  1. General Scientific Period (1800-1955)

Dalam periode ini sudah ada pengembangan teori, namun hanya berupa penjelasan terhadap praktik akuntansi. Di sini, juga sudah ada kerangka kerja untuk menjelaskan dan mengembangkan prakti akuntansi. Akuntansi dikembangkan berdasarkan metode empiris yang menekankan  pada hasil observasi atas peristiwa yang terjadi sehari-hari (realitas), bukan berdasarkan pada logika.

  1. Normative Period (1956-1970)

Dalam periode ini, perumusan teori mulai mendefenisikan norma-norma atau praktik akuntansi yang baik, dan pengembangan teori akuntansi lebih menekankan pada “apa yang seharusnya”. Akuntansi dianggap sebagai norma peraturan yang harus diikuti. Di sini, mulai muncul berbagai kritikan terhadap konsep biaya historis (historical cost). Informasi yang disajikan berdasarkan nilai pasar wajar ternyata lebih relevan bagi pengguna laporan keuangan dibandingkan dengan biaya historis. Pengukuran dengan menggunakan nilai wajar, menyediakan gambaran yang lebih baik tentang nilai aktiva dan kewajiban perusahaan serta menyediakan dasar lainnya untuk menilai prospek arus kas di masa mendatang.

  1. Spesific Scientific Period (1970-sekarang)

Periode ini disebut juga sebagai era positif, di mana teori akuntansi tidak cukup hanya dengan berdasarkan pada normatif saja (“apa yang seharusnya”), tetapi juga harus dapat diuji kebenarannya. Perumusan atau pendefenisian norma yang terjadi dalam periode sebelumnya dianggap terlalu subjektif, sehingga harus dapat di uji terlebih dahulu keabsahannya secara positif. Pendekatan normatif telah banyak mendatangkan kritikan karena teori normatif ini tidak melibatkan pengujian hipotesa, melainkan hanya berdasarkan peda pertimbanga subjektif semata. Ditahun 1970-an, data empiris sudah mulai tersedia, demikian juga hal nya dengan teknik-teknik statistik yang memungkinkan untuk dilakukannya pengujian.

 

 

  1. Teori akuntansi positif berupaya menjelaskan sebuah proses, yang menggunakan kemampuan, pemahaman, dan pengetahuan akuntansi serta penggunaan kebijakan akuntansi yang paling sesuai untuk menghadapi kondisi tertentu dimasa mendatang. Teori akuntansi positif pada prinsipnya beranggapan bahwa tujuan dari teori akuntansi adalah untuk menjelasakan dan memprediksi praktik-praktik akuntansi.
  2. Teori akuntansi positif dan normative timbul karena perbedaan sasaran teori dan bidang masalah yang menjadi perhatian masing-masing teori. Bila dikaitkan dengan dikotomi sains dan tekhnologi, teori akuntansi positif lebih erat kaitannya dengan akuntansi sebagai sains sedangkan teori akuntansi normative lebih erat kaitannya dengan akuntansi sebagai tekhnologi.

 

Soal-soal lingkungan social akuntansi

  1. Jelaskan pendorong munculnya Akuntansi Sosial ?
  2. Jelaskan pengertian dari Corporate social responsibility (CSR) ?
  3. Sebutkan tujuan dari melakukan CSR!
  4. Jelaskan posisi akuntan terhadap sosial ekonomi akuntansi ?
  5. Jelaskan pengertian Corporate Volunteering ?
  6. Sebutkan keuntungan dari melakukan CSR ?

Jawab :

  1. Menurut Sofyan (1997), akuntansi sosial timbul karena adanya kecenderungan dari para ahli untuk mengalihkan kesejahteraan individu ke arah kesejahteraan sosial. Kecenderungan yang bergerak dari kegiatan mancari keuntungan sebesar-besarnya tanpa melihat efek samping ke arah mencari laba yang berwawasan lingkungan.
  2. CSR adalah komitmen perusahaan untuk memberikan kontribusi jangka panjang terhadap satu isu tertentu dimasyarakat atau lingkungan untuk dapat menciptakan lingkungan yang lebih baik.

 

  1. Corporate Social Responsibility (CSR) bertujuan untuk :
    1. Building Human Capital

Secara internal, perusahaan dituntut untuk meciptakan SDM yang andal. Secara eksternal, perusahaan dituntut untuk melakukan pemberdayaan masyarakat, biasanya community development.

  1. Strengthening Economies

Perusahaan dituntut untuk tidak menjadi kaya sendiri sementara komunitas di lingkungannya miskin, mereka harus memberdayakan ekonomi sekitar. Yaitu dengan mengadakan pelatihan kerja maupun pemberian beasiswa bagi penduduk yang berprestasi, dan memberi bantuan modal usaha.

  1. Assessing Social Chesion

Perusahaan dituntut untuk menjaga keharmonisan dengan sekitarnya agar tidak menimbulkan konflik.

  1. Encouraging Good Governence

Dalam menjalankan bisnisnya, perusahaan harus menjalankan tata kelola dengan baik.

  1. Protecting The Environment

Perusahaan berupa keras menjaga kelestarian lingkungan.

 

  1. Karena akuntan berperan sebagai agen maka akuntan mempunyai akses informasi yang besar tentang perusahaan, para akuntan juga yang bisa mengetahui secar lebih pasti apa yang harus dilakukan oleh perusahaan dan apa yang dibutuhkan oleh massyarakat sekitar perusahaan terkait dengan akuntansi sosial.
  2. Community Volunteering adalah bentuk corporate social respontibility di mana perusahaan mendorong atau mengajak karyawannya iktu terlibat dalam program corporate social respontibiliy yang sedang dijalankan dengan jalan mengkontribusikan waktu dan tenaganya.
  3. Keuntungan Melakukan Program Corporate Social Respontibility yaitu :
    1. Mempertahankan dan mendongkrak reputasi dan image perusahaan.
    2. Layak mendapatkan social lincence to operate.
    3. Mereduksi resiko bisnis perusahaan .
    4. Melebarkan akses sumber daya.
    5. Membentangkan akses menuju market.
    6. Mereduksi biaya.
    7. Memperbaiki hubungan dengan stakeholder.
    8. Memperbaiki hubungan dengan regulator.
    9. Meningkatkan semangat dan poduktivitas karyawan.
    10. Peluang mendapat penghargaan.

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

praktek akkuntansi dan ifrs

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1              Latar Belakang

International Accounting Standards yang lebih dikenal sebagai International Financial Reporting Standard (IFRS), merupakan standar tunggal pelaporan akuntansi yang memberikan tekanan pada penilaian (revaluation) profesional dengan disclosures yang jelas dan transparan mengenai substansi ekonomis transaksi, penjelasan hingga mencapai kesimpulan tertentu. Standar ini muncul akibat tuntutan globalisasi yang mengharuskan para pelaku bisnis di suatu negara ikut serta dalam bisnis lintas negara. Untuk itu diperlukan suatu standar internasional yang berlaku sama di semua negara untuk mempermudah proses rekonsiliasi bisnis. Perbedaan utama standar internasional ini dengan standar yang berlaku di Indonesia terletak pada penerapan revaluation model, yaitu kemungkinan penilaian aktiva menggunakan nilai wajar, sehingga laporan keuangan di sajikan dengan basis ‘true and fair’.

IFRS merupakan standar tunggal pelaporan akuntansi berkualitas tinggi dan kerangka akuntansi berbasiskan prinsip yang meliputi penilaian profesional yang kuat dengan disclosures yang jelas dan transparan mengenai substansi ekonomis transaksi, penjelasan hingga mencapai kesimpulan tertentu, dan akuntansi terkait transaksi tersebut. Dengan demikian, pengguna laporan keuangan dapat dengan mudah membandingkan informasi keuangan entitas antarnegara di berbagai belahan dunia.

 

1.2              Rumusan Masalah

  1. Bagaimana praktik akuntansi negara-negara dunia?
  2. Bagaimana kompleksitas pengembangan praktik terkait regulasi dan kondisi suatu negara?
  3. Apakah tantangan dan solusi terhadap penerapan IFRS di Indonesia?

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1              Pengertian

IFRS merupakan standar akuntansi internasional yang diterbitkan oleh International Accounting Standard  Board (IASB). Standar akuntansi ini disusun oleh empat organisasi utama dunia yaitu Badan Standar Akuntansi Internasional (IASB), Komisi Masyarakat Eropa (EC), Organisasi Internasional Pasar Modal (IOSOC), dan Federasi Akuntansi Internasional (IFAC).

Natawidyana (2008) menyatakan bahwa sebagian besar standar yang menjadi bagian dari IFRS sebelumnya merupakan International Accounting Standard (IAS) kemudian IASB mengadopsi seluruh IAS dan melanjutkan pengembangan standar yang dilakukan.

Secara keseluruhan IFRS mencakup:

  1. International Financial Reporting Standard (IFRS).Standar yang diterbitkan setelah tahun 2001.
  2. International Accounting Standard (IAS). Standar yang diterbitkan sebelum tahun 2001.
  3. Interpretations yang diterbitkan oleh International Financial Reporting Interpretations Committee (IFRIC) setelah tahun 2001.
  4. Interpretations yang diterbitkan oleh Standing Interpretations Committee (SIC) sebelum tahun 2001.

 

2.2              Adopsi atau Harmonisasi?

Adopsi penuh dan harmonisasi terhadap IFRS memiliki arti yang berbeda. Adopsi penuh adalah mengadopsi secara penuh tanpa adanya perubahan-perubahan untuk diterapkan di suatu Negara. Berbeda dengan adopsi penuh, harmonisasi IFRS memiliki sifat lebih fleksibel dan terbuka. Harmonisasi standar pertama kali dikenalkan oleh European Commision (EC). Harmonisasi  berarti juga sebagai sekelompok Negara yang menyepakati suatu standar akuntansi yang mirip, namun mengharuskan adanya pelaksanaan yang tidak mengikuti standar harus di ungkapkan.

Sedangkan bagi Indonesia terhadap IFRS, IAI mendukung harmonisasi standar akuntansi melalui adopsi dan adaptasi IAS. Meskipun dengan adanya IFRS tidak semua Negara dapat menerima yang disebabkan dengan perbedaan-perbedaan ditiap Negara. Namun tetap perlu adanya yang menjembatani agar Standar Akuntansi Keuangan sejalan dengan IFRS yaitu dengan melakukan harmonisasi bahkan konvergensi terhadap IFRS. Adanya harmonisasi bahkan konvergensi terhadap IFRS maka diharapkan informasi akuntansi memiliki kualitas utama yaitu komparabilitas dan relevansi.

 

2.3              Tujuan IFRS

Tujuan IFRS adalah memastikan bahwa laporan keuangan dan laporan keuangan interim perusahaan untuk periode-periode yang dimaksud dalam laporan keuangan tahunan, mengandung informasi berkualitas tinggi yang:

1. Transparan bagi para pengguna dan dapat dibandingkan (comparable) sepanjang periode yang disajikan

  1. Menyediakan titik awal yang memadai untuk akuntansi yang berdasarkan pada IFRS.

3. Dapat dihasilkan dengan biaya yang tidak melebihi manfaat untuk para pengguna.

 

2.4              Manfaat adopsi IFRS

Harmonisasi standar akuntansi dan pelaporan keuangan telah di anggap sebagai suatu hal yang mendesak yang harus dilakukan oleh setiap negara termasuk Indonesia sebagai negara berkembang. Menurut Marsini Purba dalm bukunya yang berjudul “ International Financial Reporting Standards”, manfaat utama yang diperoleh dari harmonisasi standar akuntansi dan pelaporan keuangan adalah adanya pemahaman lebih baik atas laporan keuangan oleh pengguna laporan keuangan yang berasal dari berbagai negara. Hal ini memudahkan perusahaan menjual sahamnya secara lintas negara atau lintas pasar modal. Selain itu memberikan efisiensi dalam penyusunan laporan keuangan yang menghabiskan banyak dana dan sumber dana setiap tahunnya dan juga dapat menambah kepercayaan investor asing terhadap laporan keuangan perusahaan-perusahaan nasional.

Membuat perubahan ke IFRS, artinya mengadopsi bahasa pelaporan global, yang akan membuat perusahaan dimengerti oleh global market (pasar dunia). The Big-4 Accounting Firm mengatakan bahwa banyak dari perusahaan-perusahaan yang telah mengadopsi IFRS mengalami kemajuan yang signifikan dalam rangka memenuhi maksud mereka memasuki pasar modal dunia. Dengan Indonesia mengadopsi penuh IFRS, laporan keuangan yang dibuat berdasarkan PSAK tidak memerlukan rekonsiliasi signifikan dengan laporan keuangan berdasarkan IFRS. Adopsi penuh IFRS diharapkan memberi manfaat:

  1. Memudahkan pemahaman atas laporan keuangan dengan menggunakan SAK yang dikenal secara internasional.
  2. Meningkatkan arus investasi global.
  3. Menurunkan biaya modal melalui pasar modal global dan menciptakan efisiensi penyusunan laporan keuangan.

Menurut ketua tim implementasi IFRS-Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), Dudi M Kurniawan yang dimuat harian Kompas tanggal 6 Mei 2010 mengatakan bahwa dengan mengadopsi IFRS Indonesia akan mendapatkan tujuh manfaat sekaligus.

  1. Meningkatkan kualitas Standar Akuntansi Keuangan (SAK).
  2. Mengurangi biaya SAK.
  3. Meningkatkan kredibilitas dan kegunaan laporan keuangan.
  4. Meningkatkan komparabilitas pelaporan keuangan.
  5. Meningkatkan transparansi keuangan.
  6. Menurunkan biaya modal dengan membuka peluang penghimpunan dana melalui pasar modal.
  7. 7.    Meningkatkan efisiensi penyusunan laporan keuangan.

 

2.5              Perbandingan Standar Akuntansi Keuangan: Indonesia, Amerika Serikat, dan Internasional.

Untuk  melihat  terjadinya  perbedaan  praktek akuntansi  di  berbagai  negara  di  dunia  ini,  berikut ini  disampaikan  contoh  Standar  Akuntansi Keuangan  (SAK)  yang  berlaku  di  Indonesia, Amerika  Serikat  (Financial  Accounting  Standard Board/FASB)  dan  Stadar  Akuntansi  Internasional (International  Accounting  Standard/IAS)  atau International Financial Report Standard (IFRS). 

  1. 1.      Standar Akuntansi Keuangan Indonesia

Indonesia  sebagai  salah  satu  negara  yang sedang berkembang tentu saja sangat jauh berbeda bila  dibandingkan  dengan  negara  maju  seperti Amerika Serikat maupun negara maju lainnya baik dalam  praktek  bisnis  maupun  standar  dan  praktek akuntansinya.  Praktek  bisnis  yang  telah berkembang  di  negara  maju  dan  telah  dibuat standar  akuntansinya  namun  praktek  bisnis tersebut belum berkembang di Indonesia tentu saja belum  memerlukan  standar  akuntansi.  Sementara praktek  bisnis  yang  berkembang  di  Indonesia namun  tidak  berkembang  di  negara  lainnya termasuk  di  negara-negara  maju,  maka  dibuat standar  akuntansinya  seperti  standar  akuntansi untuk perbankan syariah.

 

  1. 2.      Standar Akuntansi Keuangan Amerika Serikat

Amerika merupakan salah satu Negara maju di dunia  yang  mempunyai  pengaruh  politik, ekonomi,  sosial  budaya  termasuk  akuntansi terhadap  sesama  Negara  maju  maupun  Negara berkembang  sangat  kuat.  Dapat  diibaratkan  apa yang  terjadi  di  Amerika  sekarang  secara  perlahan atau  cepat  akan  ditiru  di  Negara  lain.  Khusus mengenai  praktek  bisnis  di  Amerika  berkembang begitu  pesat  yang  pada  akhirnya  memerlukan standard  praktek  akuntansi  yang  berkembang pula  sesuai  dengan  perkembangan  bisnis  yang terjadi.  Bila  dibandingkan  dengan  Standar Akuntansi  Keungan  Indonesia  maupun  Standar Akuntansi  Internasional  maka  standar  akuntansi keuangan  di  Amerika  jauh  lebih  banyak  akibat praktek bisnis yang memang lebih beragam.

 

 

  1. 3.      Standar Akuntansi Internasional (IAS / IFRS)

International  Accounting Standard/International  Financial  Reporting Standard  dikeluarkan  oleh  International Accounting  Standard  Board  atau  Badan  Standar Akuntansi  Internasional.  Mengingat  tujuan penyusunan standar akuntansi tersebut untuk dapat dipergunakan sebanyak  mungking  negara di dunia maka  dalam  penyusunan  standar  akuntansi  tertentu saja  Badan  Standar  Akuntansi  Internasional mempertimbangkan kondisi sebagian besar negara sehingga  sesuai  dengan  kebutuhan  mereka.  Bila kita  bandingkan  dengan  standar  akuntansi Amerika  maka  dari  segi  jumlah  standar  yang dikeluarkan  Badan  Standar  Akuntansi Internasional  jauh  lebih  sedikit  karena  memang mereka  tidak  mengacu  pada  perkembangan  bisnis dan  kebutuhan  akuntansi  di  Amerika  saja melainkan  pada  sebagian  besar  negara  sehingga standar  akuntansi  yang  mereka  keluarkan  dapat diadopsi baik sebagian maupun sepenuhnya. Ketiga  standar  akuntansi  tersebut  baik  yang berlaku di Indonesia, Amerika Serikat, dan standar Internasional,  maka  secara  kuantitas  jelas  tampak perbedaan  yang  nyata.  Bila  melihat  dari  segi jumlah  standar  maka  standar  akuntansi  di Indonesia  bila  dibandingkan  dengan  Amerika Serikat  hanya  kurang  lebih  sepertiganya  saja sementara  bila  dibandingkan  dengan  standar akuntansi  internasional  standar  akuntansi  di Indonesia  lebih  banyak. Perbedaan  jumlah  standar akuntansi di  Amerika  yang  jauh  lebih  banyak dari Indonesia  dapat  dijelaskan  bahwa  tingkat perkembangan  ekonomi  Amerika  jauh  lebih  maju bila  dibandingkan  dengan  Indonesia  sehingga  di Amerika  telah  berkembang  berbagai  jenis instrumen  yang  dapat  dikategorikan  ke  dalam rekening  harta,  kewajiban,  maupun  ekuitas.

Sementara bila di Indonesia ada  standar akuntansi yang sudah berlaku di Amerika tetapi belum ada di Indonesia  menunjukkan  bahwa  untuk  Indonesia hal  tersebut  masih  dipandang  belum  mendesak atau penting mengingat frekuensi terjadinya masih rendah atau bahkan belum timbul sama sekali. Sementara  standar  akuntansi  internasional yang  lebih  sedikit  bila  dibandingkan  dengan Amerika bahkan Indonesia dapat dijelaskan bahwa standar akuntansi  internasional  berusaha sebanyak mungkin  dapat  mengadopsi  berbagai  keragaman standar  akuntansi  di  berbagai  negara  di  dunia. Standar  akuntansi  internasional  tersebut diharapkan banyak negara yang dapat  mengadopsi atau  menggunakan  standar  yang  ada  untuk diberlakukan  di  negara  masing-masing.  Semakin  banyaknya  negara  yang  menggunakan  standar akuntansi  internasional  berarti  telah  terjadi penyeragaman  standar  akuntansi  meskipun  belum sepenuhnya,  mengingat  seperti  di  Amerika  berarti masih  ada  standar  akuntansi  lainnya  yang  belum tercakup dalam standar akuntansi internasional.

 

2.6              Perkembangan  Harmonisasi Akuntansi Internasional

Usaha  untuk  mengharmonisasikan  akuntansi secara  internasional  sudah  dimulai  sejak  lama bahkan  sebelum  terbentuknya  International  Accounting  Standard  Commitee  (IASC)  didirikan pada  tahun  1973.  Pada  tahun  1959,  Jacob Krayenhof,  mitra  pendiri  sebuah  firma akuntan independen  Eropa  yang  utama  mendorong  agar usaha  pembuatan  standar  akuntansi  internasional dimulai.  Pada  tahun  1976, Organisasi  untuk Kerjasama  dan  Pembangunan  Ekonomi (Organization  for  Economic  Cooperation  and Development  –  OECD)  mengeluarkan  Deklarasi Investasi  dalam  Perusahaan  Multinasional  yang berisi  panduan  untuk  ”Pengungkapan  Informasi”.

Tahun  1978  Komisi  Masyarakat  Eropa mengeluarkan  Dekrit  Keempat  sebagai  langkah pertama menuju harmonisasi akuntansi Eropa.  Pada  tahun  1981  IASC  mendirikan  kelompok konsultatif yang terdiri dari organisasi non anggota untuk  memperluas  masukan-masukan  dalam pembuatan  standar  internasional.  Di  tahun  1984, Bursa  Efek  London menyatakan  bahwa  pihaknya berharap  agar    perusahaan-perusahaan  yang mencatatkan  sahamnya  tetapi  tidak  didirikan  di Inggris  dan  Irlandia  menyesuaikan  dengan akuntansi  internasional.  Tahun  2001  Badan Standar  Akuntansi  Internasional  (International Accounting  Standard  Board–IASB)  menggantikan IASC  dan  mengambil  alih  tanggungjawab  per tanggal  1  April  2001.  Standar  IASB  disebut Standar  Pelaporan  Keuangan  Internasional (International  Financial  Report  Standard–IFRS) dan  termasuk  di  dalamnya  IAS  yang  dikeluarkan IASC.  Di  tahun  2002  Parlemen  Eropa  menyetujui proposal  Komisi  Eropa  bahwa  secara  nyata seluruh  perusahaan  Uni  Eropa  yang  tercatat sahamnya  harus  mengikuti  standar  IASB  dimulai selambat-lambatnya  tahun  2005  dalam  laporan keuangan  konsolidasi.  Pada  tahun  yang  sama IASB  dan  FASB  menandatangani  ”  Perjanjian Norwalk ” yang berisi komitmen bersama terhadap konvergensi  standar  akuntansi  internasional  dan Amerika Serikat.

Pada  tahun  2008,  Ikatan  Akuntan  Indonesia (IAI)  pada  hari  Selasa,  23  Desember  2008  dalam rangka  Ulang  tahunnya  ke-51  mendeklarasikan rencana  Indonesia  untuk  convergence  terhadap International  Financial  Reporting  Standards (IFRS)  dalam  pengaturan  standar  akuntansi keuangan.  Pengaturan  perlakuan  akuntansi  yang konvergen  dengan  IFRS  akan  diterapkan  untuk penyusunan  laporan  keuangan  entitas  yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2012. Hal  ini  diputuskan  setelah  melalui  pengkajian dan penelaahan  yang  mendalam  dengan mempertimbangkan  seluruh  risiko  dan  manfaat konvergensi  terhadap  IFRS. 

International Financial  Reporting  Standards  (IFRS)  dijadikan sebagai  referensi  utama  pengembangan  standar akuntansi  keuangan  di  Indonesia  karena  IFRS merupakan  standar  yang  sangat  kokoh. Penyusunannya  didukung  oleh  para  ahli  dan dewan  konsultatif  internasional  dari  seluruh penjuru  dunia.  Mereka  menyediakan  waktu  cukup dan   didukung  dengan  masukan  literatur  dari ratusan  orang  dari  berbagai  displin  ilmu  dan  dari berbagai  macam  jurisdiksi  di  seluruh  dunia. Dengan  telah  dideklarasikannya  program konvergensi  terhadap  IFRS  ini,  maka  pada  tahun 2012  seluruh  standar  yang  dikeluarkan  oleh Dewan  Standar  Akuntansi  Keuangan   IAI  akan mengacu kepada IFRS dan diterapkan oleh entitas.

           

2.7              Kendala adopsi IFRS di Indonesia

  1. Kurang siapnya infrastruktur.
  2. Kondisi peraturan perundang-undangan yang belum tentu sinkron dengan IFRS.
  3. Kurang siapnya sumber daya manusia dan dunia pendidikan di Indonesia. Dilihat dari minimnya pengajaran dan pembahasan topik-topik akuntansi keuangan terkait IFRS, karena IFRS belum dijadikan mata kuliah pokok program pendidikan akuntansi di Indonesia.
  4. Proses penerjemahan IFRS menjadi PSAK. Terkadang membutuhkan waktu yang relatif lama dan terkadang juga memberikan makna yang berbeda dengan sumber aslinya.

 

2.8              Kesiapan Indonesia mengadopsi IFRS secara penuh

Sejak tahun 1994, Indonesia sebenarnya telah mengadopsi sebagian besar IAS. PSAK dan ISAK yang diberlakukan sejak tahun 1994 adalah saduran dari IAS dan SIC yang diterbitkan sebelum tahun 1994. DSAK (Dewan Standar Akuntansi Keuangan)  yang berada dibawah IAI telah mencanangkan adopsi penuh IAS dan IFRS yang telah rampung pada tahun 2010 dan mulai menerapkannya di tahun 2012.

Indonesia saat ini belum mewajibkan bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia menggunakan IFRS melainkan masih mengacu kepada standar akuntansi keuangan lokal.  Dewan Pengurus Nasional IAI bersama-sama dengan Dewan Konsultatif SAK dan Dewan SAK merencanakan tahun 2012 akan menerapkan standar akuntansi yang mendekati konvergensi penuh kepada IFRS. Indonesia sebenarnya masih memiliki banyak regulasi yang tidak mendukung sehingga adopsi penuh IFRS sulit dilakukan.

Berdasarkan proposal konvergensi yang telah dikeluarkan IAI, proses adopsi dibagi menjadi tiga tahap yaitu:

  1. Tahap adopsi, yaitu dengan mengadopsi seluruh IFRS terakhir kedalam PSAK pada  tahun 2008-2010.
  2. Tahap persiapan, yaitu penyiapan seluruh infrastruktur pendukung untuk implementasi PSAK yang sudah mengadopsi seluruh IFRS pada tahun 2011.
  3. Tahap implementasi, yaitu penerapan PSAK yang sudah mengadopsi seluruh IFRS bagi perusahaan-perusahaan yang memiliki akuntabilitas publik pada tahun 2012.

Jadi, beralih ke IFRS bukanlah sekedar pekerjaan mengganti angka-angka dilaporan keuangan, tetapi mungkin akan mengubah pola pikir dan cara semua elemen didalam perusahaan.

 

2.9              Faktor yang mempengaruhi praktik akuntansi di berbagai Negara

  1. Lingkungan sosial

Horrison dan McKinnon (1986) mengembangkan suatu kerangka pikir untuk menjelaskan bagaimana sistem pelaporan akuntansi berubah. Berdasarkan kerangka tersebut, perubahan pada akuntansi merupakan produk dari interaksi kejadian-kejadian dilapangan dan interaksi antara praktik akuntansi dan lingkungan sosial.

 

  1. Ekonomi

1)      Tingkat pertumbuhan ekonomi dan pembangunan

Perubahan struktur perekonomian dari agraris ke manufaktur akan menampilkan sisi lain dari system akuntansi, antara lain dengan mulai memperhitungkan depresiasi mesin. Industri jasa juga memunculkan pertimbangan atas pencatatan aktiva tak berwujud seperti merk, goodwill, dan sumber daya manusia.

 

2)      Tingkat inflasi

Timbulnya hyperinflation di beberapa Negara dikawasan Amerika Selatan membuat adanya pemikiran untuk menggunakan pendekatan lain sebagai alternatif dari pendekatan hystorical cost.

 

3)      Sumber pendanaan

Kebutuhan akan informasi dan pertanggungjawaban kepada public lebih besar ditemui pada perusahaan-perusahaan yang mendapatkan sumber pendanaan dari pemegang saham eksternal dibandingkan dengan perusahaan dengan sumber pendanaan dari perbankan atau dari dana keluarga.

 

4)      Sistem perpajakan

Negara-negara seperti perancis dan Jerman menggunakan laporan keuangan perusahaan sebagai dasar penentuan utang pajak penghasilan, sedangkan negara seperti Amerika Serikat dan Inggris menggunakan laporan keuangan yang telah disesuaikan dengan aturan perpajakan sebagai dasar penentuan utang  pajak dan disampaikan terpisah dengan laporan keuangan untuk pemegang saham.

 

  1. Politik

Sistem politik yang dijalankan oleh suatu negara sangat berpengaruh pada system akuntansi yang dibuat untuk menggambarkan filosofi dan tujuan politik dinegara tersebut, seperti halnya pilihan atas perencanaan terpusat (Central Planning) atau swastanisasi (Private Interprises).

 

  1. Budaya

Violet (1983) menyatakan bahwa bahasa merupakan variabel budaya yang paling penting. Bahasa merupakan pondasi untuk mempromosikan budaya. Memandang akuntansi adalah bahasa bisnis. Dari sini dapat disimpulkan bahwa prinsip akuntansi akan bervariasi tergantung dari variasi budaya yang dimiliki oleh negara yang bersangkutan.

 

2.10          Implikasi  Bagi  Standar  dan Praktek Akuntansi, serta Solusi terhadap Penerapan IFRS di Indonesia.

Indonesia  merupakan  bagian  yang  tidak terpisahkan  dari  bisnis  internasional  atau  global tentu  saja  juga  akan  menghadapi  permasalahan dalam  standar  maupun  praktek  akuntansinya  yang mau  tidak  mau  harus  menyesuaikan  diri  dengan perkembangan  akuntansi  yang  berlaku  secara internasional.  Beberapa  negara  maju  antara  lain Perancis  telah  memberikan  kebebasan  kepada perusahaan  untuk  menggunakan  standar  akuntansi Perancis  maupun  standar  akuntansi  internasional yaitu  Ineternational  Financial  Report  Standard yang  dikeluarkan  oleh  International  Accounting Standard  Board.  Pemberian  kebebasan  kepada perusahaan  untuk  menggunakan  IFRS  tentu  saja dapat  menjadi  kecenderungan  bagi  negara  lainnya yang  pada  akhirnya  akan  mendorong  penggunaan IFRS  secara  meluas  di  berbagai  negara  termasuk Indonesia.

Namun  demikian  merujuk  pada  faktor-faktor yang  mempengaruhi  praktek  akuntansi,  maka Indonesia  tidak  dengan  serta  merta  mengadopsi IFRS  secara  penuh  atau  mutlak  mengingat perbedaan  faktor  pendukung  sehingga  harus dilakukan  kajian  terlebih  dahulu  standar  mana yang  sudah  dapat  diadopsi  dan  diterapkan  di Indonesia  dan  standar  mana  yang  belum  dapat diadopsi  untuk  diterapkan  di  Indonesia,  dengan demikian  penerapan  IFRS  dibatasi  terlebih  dahulu hanya  pada  perusahaan-perusahaan  yang mempunyai  kemampuan  penyesuaian  tinggi terhadap  perubahan  penggunaan  standar  yang berlaku  di  Indonesia  ke  IFRS.  Perusahaan penanaman  modal  asing  (PMA)  dan  perusahaan yang  telah  go  publik  mungkin  merupakan perusahaan-perusahaan    yang  telah  siap  beralih dari  penggunaan  standar  akuntansi  Indonesia  ke dalam  standar  akuntansi  internasional  mengingat selama  ini  mereka  telah  berinteraksi  dengan investor,  kreditor  dan  badan-badan  internasional. Hal  ini  mengingat  di  Indonesia  terdapat heteroginitas  perusahaan  dari  perusahaan  skala mikro, kecil, menengah hingga yang besar.

Perbedaan  karakteristik  perusahaan  ini  tentu saja  menuntut  pemberlakukan  standar  akuntansi yang  berbeda  sehingga  masing-masing  kelompok perusahaan dapat memilih standar akuntansi sesuai dengan  karakteristik  perusahaan.  Khusus mengenai  usaha  mikro,  kecil,  dan  menengah misalnya  saat  ini  sedang  pada  tahap  penyerapan aspirasi  dari  berbagai  pihak  yang  berkepentingan guna  penerapan  standar  akuntansi  bagi  usaha mikro,  kecil  dan  menengah,  maka  pada  satu  sisi Indonesia  dapat  menerima  dan  mengadopsi standar  akuntansi  yang  berlaku  secara internasional  sehingga  akan  meningkatkan  daya banding  laporan  keuangan  perusahaan-perusahaan yang  beroperasi  di  Indonesia.  Sementara  di  sisi yang  lain  Indonesia  masih  dapat  memberikan ruang  gerak  bagi  penerapan  standar  yang  bersifat nasional  bagi  perusahaan-perusahaan  yang  secara teknis  belum  dapat  menyesuaikan  dengan  standar akuntansi yang berlaku secara internasional.  

 

BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

            Dari penjelasan di atas, terlihat bahwa sejumlah besar perusahaan secara sukarela mengadopsi standard pelaporan keuangan Internasional (IFRS). Banyak Negara yang telah mengadopsi IFRS secara keseluruhan dan menggunakan IFRS sebagai dasar standard nasional. Hal ini dilakukan untuk menjawab permintaan investor institusional dan pengguna laporan keuangan lainnya. Banyak pro dan kontra dalam penerapan standard internasional, namun seiring waktu, Standard internasional telah bergerak maju, dan menekan Negara-negara yang kontra.

Indonesia harus mengadopsi standar akuntansi internasional untuk memudahkan perusahaan asing yang akan menjual saham di negara ini atau sebaliknya. SAK Indonesia direncanakan akan mengadopsi penuh IFRS tahun 2012. Hal ini diharapkan akan semakin membawa perusahaan-perusahaan di Indonesia dapat bersaing dengan perusahaan internasional lainnya karena dengan melakukan adopsi ini tentunya penyajian laporan keuangan yang dilakukan oleh perusahaan juga akan semakin akuntabel dan transparan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anjasmoro, Mega. 2010. Adopsi InternasionalFinancial Report Standard. “Kebutuhan atau Paksaan?” Studi KasusPada PT. GarudaAirlines Indonesia. Skripsi. Universitas Diponegoro.

Purba, marsini. 2010. International Financial Reporting Standards. Yogyakarta: Graha Ilmu.

http://www.scribd.com/doc/83892350/makalah-IFRS

http://febiaziza070809.blogspot.com/2011/11/makalah-ifrs.html

 

 

 

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

sejarah dan perkembangan akuntansi

BAB 1

PENDAHULUAN

Latar belakang

Pernyataan mengenai seberapa pentingnya akuntansi selalu membutuhkan suatu pembelaan yang kuat,untuk menghilang stigma yang tertanam pada akuntansi yang menunjukkan bahwa sejak awal akuntansi adalah suatu yang terhormat bahkan bersifat akademis,meskipun saat ini tidak dihormati.akuntansi dari waktu kewaktu telah menarik perhatian orang-orang yang memiliki kemampuan intelektual yang tidak dipertanyakan lagi.Akuntansi mampu meberikan pembuktian melalui akuntansi itu sendiri untuk memenuhi kebutuhan social.

Fungsi akuntansi adalah untuk menunjukkan pertanggungjawaban,mencegah terjadinya kecurangan(Fraud), memandu industry menentukan ekuitas,memecahkan seluruh teka-teki mendasar didalam dunia usaha,membantu pemerintah dalam operasi fisika dan untuk memandu manajer bisnis dalam upaya memastikan efisiensi.

Apakah upaya-upaya diatas tidak layak untuk mendapatkan perhatian  dari semua orang. akuntansi memberikan kontribusi yang besar terhadap dunia bisnis. Dan sudah sepantasnyalah akuntansi mendapat perhatian khusus. Sebelum kita mempelajari lebih jauh tentang akuntansi ada baiknya kita harus mengetahui dan memahami sejarah dari akuntansi itu sendiri.

Sejarah dan perkembangan akuntansi suatu hal yang sangat penting didalam memahami dan menghargai paraktik-praktik  saat ini dan dimasa yang akan datang.sekaligus sebagai struktur institusional dari disiplin ilmu akuntansi itu sendiri

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN AKUNTANSI

A . EVOLUSI PEMBUKUAN PENCATATAN BERPASANGAN

 

  1. 1.      Sejarah Awal Akuntansi

Berbagai percobaan telah dilakukan untuk menyatakan lokasi dan waktu lahirnya system pencatatan berpasangan yang telah menghasilkan berbagai scenario.kebanyakan scenario tersebut mengakui adanya kehadiran suatu bentuk pelaksanaan pencatatan disebagian besar kebudayaan sejak sekitar 3000 tahun sebelum masehi Termasuk didalamnya adalah kebudayaan Chaldean- Babilonia,asiria dan sumeria, yang menemukan pemerintahan teroganisasi pertama di dunia, termasuk juga beberapa bahasa tulisan tertua dan catatan usaha tertua yang msih dapat diselamatkan, kebudayaan mesir, dimana para juru tulisnya menjadi “ titik pusat dimana keseluruhan mesin perbendaharaan dn bagian-bagian lain berputar,” kebudayaan cina dimana akuntansi pemeritahannya memainkan peranan yang vital dan rumit pada masa dinasti chao, (1122-256 SM), kebudayaan yunani dimana Zenon seorang menejer dari wilayah Appolonius yang luas, memperkenalkan ditahun 256 SM sebuah system akuntansi pertanggungjawaban yang terperinci, dan kebudayaan romawi dengan hukum yang mengharuskan para pembayar pajak membuat pelaporan mengenai posisis keuangan mereka, dan imana hak-hak sipil bergantung kepada jumlah harta benda yang dilaporkan oleh para penduduknya.

Jika kita ingin melacak ilmu akuntansi yang amat penting kita harus kembali ke asal usulnya, kita secara alamiah akan meanganggap penemuan pertamanya akan berasal dari dari para pedangan yang pertama dan kita tidak dapat mengklaim hal tersebut pada masa itu selain orang-orang arab. Orang-orang Arab yang selama beberapa masa menunjukan kejayaanya didunia perdagangan tersebut melalui interaksinya dengan bangsa lain, dari merekalah orang-orang mesir harus melakukan suatu bentuk pertama dari akuntansi menurut cara perdagangan yang umum, dan kemudian dikomunikasikan keseluruh kota-kota di Timur Tengah.

  1. 2.      Kontribusi Lucas Pacioli

 Luca Pacioli adalah seorang pastur dari ordo Fransiskus , Dia orang yang pertama kali di asosiasikan dengan pengenalan pembukuan pencatatan berpasangan untuk pertama kalinya. Pada tahun 1494 Ia menerbitkan buku yang berjudul Summa de Arithmetica Geometria,Proportioni et Proportionalita yang di dalamnya terdapat dua buah bab _de Computis et Scripturis_ yang menjelaskan pembukuan pencatatan berpasangan. Risalahnya mencerminkan prakti-praktik yang berlaku di Venesia pada masa itu, kemudian dikenal sebgai “metode Venesia” atau “metode italia”. Luca Pasioli bukanlah penemu dari pembukuan pencatatan berpasangan , tetapi Ia yang menguraikan mengenai apa yang dipraktikkan pada masa itu, Ia menyatakan bahwa tujuan pembukuan adalah” untuk memberikan informasi yang tidak tertunda kepada para pedagang mengenai keadaan aktiva dan hutang-hutangnya. Debit (adebeo) dan kredit (credito) digunakan dalam pencatatan untuk memastikan sebuah pencatatan berpasangan. Seluruh pencatatan harus berpasangan.

 

3.  Perkembangan Pembukuan Pencatatan Berpasangan

1.Sekitar abad ke – 16 teradi beberapa perubahan didalam teknik-teknik pembukuan. Perubahan yang patut dicatat adalah diperkenalkannya jurnal-jurnal khusus untuk pencatatan berbagai jenis transaksi yang berbeda.

2. Pada abad ke – 16 dan 17 terjadi evolusi pada praktik laporan keuangan periodic sebagai tambahan lagi diabad ke 17 dan 18 terjadi evolusi pada personifikasi dari seluruh akun dan transaksi sebagai suatu usaha untuk merasionalisasikan aturan debit dan kredit yang digunakan pada akun-akun yang tidak pasti hubungannya dan abstrak.

3. Penerapan dari system pencatatan berpasangan juga diperluas kejenis-jenis organisasi yang lain.

4. Abad ke -17 mencatat terjadinya penggunaan akun-akun persediaan yang terpisah untuk jenis barang yang berbeda.

5. Dimulai dengan East India Company diabad ke-17 dan selanjutnya diikuti dengan perkembangan dari perusaahan seiring dengan revolusi industry,akuntansi mendapatkan status yang lebih baik,ditunjukkan dengan adanya kebutuhan akan akuntansi biaya dan kepercayaan yang diberikan kepada konsep-konsep mengenai kelangsungan,periodisitas dan accrual.

6. Pada abad ke-18 metode-metode untuk pencatatn aktiva tetap mengalami evolusi.

7. Abad ke-19 depresiasi untuk aktiva tetap hanya diperhitungkan pada barang dagangan yang tidak terjual. Pertengahan abad ke-19 Saliero pada tahun1915 menggunakan metode –metode depresiasi berikut ini.Metode garis lurus,metode saldo menurun,metode dana pelunasan dan anuitas,dan metode unit biaya. Setelah tahun 1930 beban depresiasi menadi lebih umum digunakan.

8. Akuntansi biaya muncul pada abad ke 19 sebagai sebuah hasil dari revolusi industry.Akuntansi biaya diawali oleh pabrik-pabrik tekstil pada abad ke 15.

9. Pada akhir abad ke 19 terjadi perkembangan pada teknik-tknik akuntansi untuk embayaran dibayar dimuka dan accrual,sebagai cara untuk memungkinkan dilakukannya perhitungan dari laba periodic.

10. Akhir abad ke 19 dan ke 20 terjadi perkembangan pada laporan dana.

11.Diabad ke 20 terjadi perkembangan pada metode-metode akuntansi untuk isu-isu komplek,mulai dari hitungan laba persaham,akuntansi untuk perhitungan bisnis,akuntansi untuk inflasi,sewa jangka panjang dan pension,sampai kepada masalah penting dari akuntansi sebagai produk baru dari rekayasa keuangan.

 

 

 

 

  1. A.    PERKEMBANGAN PRINSIP-PRINSIP AKUNTANSI DI AMERIKA SERIKAT

 

  1. 1.      Tahap konrtibusi Manajemen (1900-1933)

Pengaruh manajemen di dalam formulasi prinsip-prinsip akuntansi muncul dari meningkatnya jumlah pemegang saham dan peranan ekonomi dominan yang dimainkan oleh perusahaan-perusahaan industrisetelaah tahun 1900.

Pemain utama pada masa itu adalah asosiasi akuntan prefesional, American Institute of Accountants (AIA), pada tahun 1917 menetapkan suatu dewan pemeriksa ( Board of Examiners) untuk membuat suatu ujian CPA yang seragam, dan Bursa Efek New York, yang sejak tahun 1900 mensyaratkan seluruh perusahaan yang masuk bursa saham untuk menerbitkan laporan keuangan tahunan.

Kejadian penting yang lain dimasa itu adalah meningkatnya dampak dari teori akuntansi terhadap perpajakan atas laba usaha. Meskipun undang-undang tahun 1913 telah memberikan dasar kalkulasi laba pajak kena pajak dengan dasar penerimaan dan pengeluaran kas, undang-undang tahun 1918 adalah yang pertama yang mengakui peranan dari prosedur akuntansi di dalam penentuan laba kena pajak.seperti yang dinyatakan di dalam seksi 212 (b) dari undang-undang tersebut.

  1. 2.       Tahap Kontribusi Isnstitusi (1933-1959)

Tahap ini ditandai dengan adanya pembuatan dan peningkatan peranan industry di dalam pengembangan prinsip-prinsip akuntansi. Hal ini meliputi Pendirian Securities and Exchange Commission (SEC), Persetuan atas “ prinsip-prinsip umum “ oleh AIA dan peran baru yang dimainkan oleh Komite Prosedur Akuntansi ( Committee on Accounting Procedures_CAP ) masing-masing akan ditinjau dibawah ini.

  1. Pada tahun 1934, Kongres menciptakan SEC dengan tugas untuk mengelola beragam hukum-hukum investasi federal, termasuk undang-undang Sekuritas pada tahun 1933 yang mengatur penerbitan sekuritas dipasar-pasar antar Negara bagian dan undang-undang sekuritas tahun 1934 yang mengatur perdagangan sekuritas.
  2. Setelah publikasi yang dilakukan oleh Ripley didalam satu artikel yang mengkritik teknik-teknik pelaporan sebagai sesuatu yang memperdayakan, George o. May, Kebangsaan Inggris mengusulkan agar Institusi Akuntan Publik Berserikat Amerika   (American Institute of Certified Public Accounting_AICPA)memulai sebuah usaha kerja sama dengan bursa efek. Komite Mengusulkan percobaan resminya yang pertama untuk mengembangkan tehnik-tehnik akuntansi yang berlaku umum. Dikenal sebagai “ prinsip-prinsip umum”
  3. Setelah diterbitkannya ASR no.4 oleh SEC, yang menentang profesi akuntansi untuk “ memberikan dukungan subtansial dari yang berwenang” bagi prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku, dan meningkatnya kecaman dari Asosiasi Akuntansi Amerika  (American Accounting Association ) dan para anggotanya yang baru saja dibentuk, instuti selanjutnya pada tahun 1938 memusteskan member kuasa kepada Komite Prosedur akuntansi ( Committee Accounting Procedure _CAP) untuk mengumumkan keputusanya. CAP menerbitkan 12 Accounting Research Bulletins (ARB) selama periode 1938-1939

      3 . Tahap Kontribusi Profesional (1959-1973)

              Ketidak puasan terhadap CAP dengan sangat jelas diungkapkan oleh presiden AICPA,  Alvin R. Jennings, dengan pertanyaan mengenai “ seberapa sukseskah kita dalam mempersempit area-area yang memiliki perbedaan dan ketidakkonsistenan di dalam pembuatan dan penyajian dari informasi keuangan.” Suatu Komite Khusus yang dibuat di tahun 1957 dan 1958 mengusulkan untuk melakukan pembubaran CAP dan departemen Risetnya. AICPA menerima rekomendasi dari komite dan mendirikan di tahun 1959, Dewan Prinsip Akuntansi (Accounting Principles Board_APB) dan Divisi Riset Akutansi ( Accounting Research Division )dengan misi untuk memajukan pernyataan tertulis dari apa yang dinyatakan sebagai prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku secara umum . Accounting Research Division melanjutkn dengan publikasi daari proses yang masih diperdebatkandengan sengit yang bergantung pada pemberian alas an mengenai deduksi.

              APB juga menerbitkan berbagai opini mengenai isu-isu konvensional , mencapai  jumlah 31 Opini antara tahun 1959 dan 1973. Asosiasi Akuntansi Amerika juga ikut berpartisipasi di dalam proses ini melalui beberapa studi riset dan percobaan untuk mengembangkan suatu pernyataan yang terintegrasi dari teori akuntansi dasar usaha-usaha yang dilakukan tidak selalu berhasil, APB sndiri ditentang dan dikritik untuk:

–          Opini yang terbatas, konvensional atau ad hoc, termasuk APB 8 mengenai akuntansi pension, APB 11 mengenai alokasi pajak penghasilan, serta APB 2 dan 4 mengenai kridit pajak investasi.

–           Kegagalan untuk memecahkan masalah mengenai akuntansi bagi kombinasi bisnis dan goodwill.

              Anggapan bahwa terdapat mata rantai antara profesi dengan APB juga tidak membantu. Intervensi dari asosiasi dan agen-agen profesi dalam formulasi suatu teori akuntansi di picu oleh usaha-usaha untuk melenyapkan tehnik-tehnik yang tidak diketaui dan untuk ehnik-tehnik yang dapat diterima. Sekali lagi  ketergantungan terhadap asosiasi dan agen-agen seperti diatas bukannya tidak memiliki konsekwensi , seperti hal-hal berikut :

–          Asosiasi dan keagenan tidak berstandar pada kerangka kerja teoritis yang telah dibuat

–          Wewenamg atas pernyataan tidak dinyatakan dengan jelas

–          Adanya perlakuan alternative  memungkinkan adanya flekdibilitas didalam pemilihan teknik-teknik akuntansi.

              Ketidakpuasan akibat adanya intervensi profesional, seperti yang telah diungkapkan dalam tulisan oleh Briloff, adalah suatu cara yang efektif dalam menarik perhatian masyarakat umum akan adanya penyalahgunaan akuntansi yang mendominasi beberapa laporan tahunan tertentu.

 

  1. 4.      Tahap Politisasi (1973-sekarang)

              Keterbatasan yang dimiliki asosiasi professional maupun manajemen dalam memformulasikan suatu teori akuntansi telah mengarah kepada pengadopsian suatu pendekatan yang lebih deduktif sekaligus melakukan politisasi atas proses penetapan stndarnya_sebuah situasi yang diciptakan oleh pandangan yang  berlaku secara umum bahwa angka-angka akuntansi mempengaruhi prilaku berekonomi dan sebagai konsekuensinyaaturan-aturan akuntansi hendaknya dibuat dalam area politik.

              Sejak awal FASB telah menerapkan sebuah pendekatan deduktif dan quasi politikn dalam formulasi dari prinsip-prinsip akuntansi. Hal yang dilakukan oleh FASB mendapatkan nilai yang lebih baik, pertama, dengan adanya usaha untuk mengembangkan suatu kerangka kerja teoritis atau kesepakatan dalam akuntansi, kedua dengan lahirnya berbagai kelompok yang berkepentingan , yang kontribusinya diperlukan bagi penerimaan umum atas standar baru. Oleh sebab itu proses penetapan standar memiliki aspek politis didalamnya.

              Hubungan dari organisasi-organisasi besar menyarankan agar “delapan besar” dan AICPA  memiliki kendaki atas standar-standar akuntansi yang di setujui oleh SEC. setelah menerangkan perlunya pemerintahan federal memastikan bahwa perusahaan yang dimilki public benar-benar bertanggung jawab kepada masyarakat.

  1. C.    AKUNTANSI DAN KAPITALISME

 

              Akuntansi dan kapitalisme saling dikaitkan oleh beberapa sejarawan ekonomi dengan adanya klaim umum bahwa pembukuan pencatatan berpasangan adalah suatu hal yang vital dalam perkembangan evolusi dari kapitalisme.

 

              Hubungan antara akuntansi dan kapitalisme selanjutnya dikenal sebgai tesis atau argument sombart .Ia mengemukakan bahwa transformasi aktiva menjadi nilai-nilai abstrak dan ekspresi kuantitaif dari aktivitas bisnis,dan akuntansi yang sistematis dalam bentuk pembukuan pencatatan berpasangan membuat adanya kemungkinan untuk seorang wirausahawan yang kapitalis untuk merencanakan,melakukan,dan mengukur dampak dari aktivitas yang ia lakukan serta melakukan pemisahan dari pemilik dan bisnis itu sendiri,sehingga memungkinkan adanya pertumbuhan bagi perusahaan.

 

              Empat alasan berikut ini umumnya muncul untuk menjelaskan peranan dari pencatatan berpasangan didalam ekspresi ekonomi setelah berakhirnya abad pertengahan:

  1. Pencatatan berpasangan memberikan kontribusi bagi munculnya satu sikap baru atas kehidupan ekonomi.
  2. Semangat baru melakukan akuisisi ini didukung dan didorong oleh adanya perbaikan dari perhitungan-perhitungn ekonomis.
  3. Rasionalisme baru ini kian ditingkatkan lagi dengan adanya organisasi yang sistematis.
  4. Pembukuan pencatatan berpasangan mengijinkan adanya pemisahan atas kepemilikan dan manajemen dan karenanya meningkatkan pertumbuhan dari perusahaan besar dengan saham gabungan.
  5. D.    RELEVANSI SEJARAH AKUNTANSI

 

Sejarah akuntansi penting bagi pedagogi,kebijakan,dan praktik akuntansi.sejarah

kemungkinan kita untuk dapat memahami mas kini dan meramalkan atau mengendalikan masa depan kita.Sejarah akuntansi dapat dinarasikan oleh episode-episode yang saling berhubungan dengan suatu cara tertentu.spesifik,dan non analitis.dengan uraian mengenai teori keilmuan,pekerjaan individu yang unik,system nilai mereka dan kritik yang diberikan pada pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan atau interpretasional dengan memberikan penjelasan dari episode-episode tersebut.

            Relevansi sejarah akuntansi terhadap praktik,kebijakan dan pedagogi akuntansi menuntut lebih banyak pertanyaan yang dilontarkan mengenai sejarah akuntansi.Area yang didiskusikan dari riset sejarah ini akan mencakup area-area seperti biografi,sejarah institusional,perkembangan pemikiran,sejarah umum,sejarah penting.taksonomi dan basis data bibiografi,dan historiografi.

 

  1. E.     ISU-ISU AKUNTANSI INTERNASIONAL

 

  1. 1.      Defenisi akuntansi internasional

Weirich dan beberapa penulis lain memberikan klarifikasi yang bermanfaat atas definisi-definisi ini,dengan mengidentifikasi tiga konsep utama:

–          Akuntansi untuk induk perusahaan-anak perusahaan diluar negeri atau akuntansi untuk anak perusahaan.

–          Akuntansi komparatif atau internasional

–          Akuntansi universal atau dunia

Konsep dari akuntansi universal atau dunia adalah yang paling luas ruang lingkupnya.Konsep ini mengarahkan akuntansi inetrnasional menuju formulasi dan studi atas satu kumpulan prinsip-prinsip akuntansi yang diterima secara universal. Tujuannya adalah untuk mendapatkan satu standardisasi lengkap atas prinsip-prinsip akuntansi secara internasional.

Konsep dari akuntansi komparatif atau akuntansi internasional mengarahkan akuntansi internasional kepada studi dan pemahaman atas perbedaan-perbedaan nasional didalam akuntansi. Hal ini meliputi:

–          Kesadaran akan adanya keragaman internasional didalam akuntansi perusahaandan praktik-praktik pelaporan

–          Pemahaman akan prinsip-prinsip dan praktik-praktik akuntansi dari masing-masing Negara.

–          Kemampuan untuk menilai dampak dari beragamnya praktik-praktik akuntansi pada pelaporan keuangan

 

Akuntansi internasional mencakup dua pendekatan deskriptif dan informative.menurut konsep ini,akuntansi internasional meliputi seluruh jenis prinsip,metode dan standar akuntansi yang dimiliki oleh semua Negara.

 

Munculnya paradigma baru didalam akuntansi internasional memperluas kerangka kerja dan pemikiran untuk memasukkan ide-ide baru dari akuntansi internasional.sebagai akibatnya terbit daftar yang sangat panjang akan konsep-konsep dan teori-teori akuntansi yang dibuat oleh Amenkhienan untuk memutuskan hal-hal berikut:

  1. Teori universal atau dunia
  2. Teori multinasional
  3. Teori komparatif
  4. Teori transaksi-transaksi internasional
  5. Teori translasi

Masing-masing teori diatas memberikan dasar bagi pengembangan dari sebuah kerangka kerja konseptual untuk akuntansi internasional meskipun aka terdapat argumentasi mengenai teori yang manakah akan lebih disukai yaitu tiga teori yang pertama memiliki lebih banyak pengikut daripada dua teori sisanya.

Kondisi-kondisi lingkungan dapat dipastikan akan memberikan dampak kepada penentuan dari standar akuntansi yang mencakup hal-hal berikut ini:

  1. Relativisme cultural: dimana konsep-konsep akuntasi disuatu Negara tertentu adalah sama uniknya dengan cirri-ciri kebudayaan lainnya.
  2. Relativisme linguistic dimana akuntansi sebagai suatu bahasa dengan sifat leksikal dan tata bahasanya akan mempengaruhi perilaku linguistic dan non linguistic dari para penggunanya.
  3. Relativisme politik dan sipil dimana konsep-konsep akuntansi disetiap Negara manapun akan bergantung kepada konteks politik dan sipil dari Negara tersebut.
  4. Relativisme ekonomi dan demografis dimana konsep-konsep akuntasi disetiap Negara manapun akan bergantung kepada konteks ekonomi dan demografis dari Negara tersebut.
  5. Relativisme hokum dan perpajakan dimana konsep-konsep akuntansi disetiap Negara manapun akan bergantung kepada dasarhukum dan perpajakan dari setiap Negara tersebut

 

  1. 2.      Harmonisasi standar akuntansi

 

  1. a.      Arti harmonisasi standar akuntansi

istilah harmonisasi sebagai kebalikan dari standardisasi memiliki arti sebuah rekonsiliasi atas berbagai sudut pandang yang berbeda.istilah ini lebih bersifat sebagai pendekatan praktis dan mendamaikan daripada standardisasi,terutama jika standardisasi berarti prosedur-prosedur yang dimiliki oleh satu Negara hendaknya harus diterapkan oleh semua Negara yang lain. Harmonisasi menjadi suatu bagian yang penting untuk menghasilkan komunikasi yang lebih baik atas suatu informasi agar dapat diartikan dan dipahami secara internasinal.

  1. b.      Manfaat dari harmonisasi

Terdapat bermacam-macam keuntungan dari harmonisasi pertama bagi banyak Negara,belum terdapat suatu standar kodifikasi akuntansi dan audit yang memadai.Kedua internasionalisasi yang berkembang dari perekonomian dunia dan meningkatnya saling ketergantungan dari Negara-negara didalam kaitannya dengan perdagangan dan arus investasi,internasional adalah argumentasi yang utama dari adanya suatu bentuk standar akuntansi daan audit yang berlaku secara inernasional. Ketiga adanya kebutuhan dari perusahaan perusahaan untuk memperoleh modal dari luar,mengingat tidak cukupnya jumlah laba ditahan untuk mendanai proyek-proyek dan pinjaman-pinjaman luar negeri yang tersedia,telah meningkatkan kebutuhan akan harmonisasi akuntansi.

   

  1. B.        Batasan pada harmonisasi

            Argumentasi berikut ini pada umumnya dikemukakan untuk membenarkan sikap pesimistis ini: Pertama pemungutan pajak bagi semua Negara adalah sumber permintaan yang terbesar akan adanya jasa-jasa akuntansi,karena system pemungutan pajak berbeda-beda secara internasional,dengan mudah dapat diperkirakan bahwa ia akan mengarah kepada perbedaan didalam prinsip-prinsip dan system akuntansi yang digunakan secara internasional. Kedua kebijakan-kebijakan akuntansi hamper selalu dibuat untuk mencapai sasaran politik ataupun ekonomi yang kompatibel dengan system perekonomian atau politik yang menyertai disuatu Negara tertentu. Karena hanya sedikit harapan untuk memenuhi satu system polotik atau ekonomi tunggal secara internasional,dapat diperkirakan bahwa perbedaan-perbedaan yang terjadi didalam system politik dan ekonomi akan terus menjadi halangan bagi harmonisasi akuntansi internasional. Ketiga beberapa rintangan bagi harmonisasi internasional diciptakan oleh para akuntan itu sendiri melalui persyaratan lisensi nasional yang ketat.

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. A.    KESIMPULAN

 

Makalah ini menyajikan segi-segi yang penting dari sejarah dan perkembangan akuntansi.Evolusi historis dari akuntansi akan memberikan petunjuk dan penjelasan mengenai sebagian besar kejadian-kejadian penting yang membentuk kemunculan dari pembukuan pencatatan berpasangan dan perkembangan dari akuntansi modern.

           

Hal ini meningkatkan kemampuan orang yang berminat terhadap disiplin ilmu akuntansi dalam membuat pertimbangan dengan dasar yang lebih luas dan berdasarkan informasi. Disamping itu akan meningkatkan kita untuk menghubungkan masa lalu dengan apa yang telah dipraktikan dan apa yang seharusnya dipraktikan,atau dengan kata lain mata rantai antara kondisi historis dan kedua kondisi positif dan normative,Sebuah mata rantai yang mendukung pandangan dari sejarah sebagai suatu produk cultural yang diperoleh dari konteks penuh lingkungan social,politik,ekonomi dan temporal.

 

  1. B.     SARAN

           Kita sebagai seorang calon sarjana akuntansi atau orang yang mempelajari dan memperdalam ilmu akuntansi sudah sepantasnya kita mengetahui dan memahami sejarah dan perkembangan akuntansi.

  1. C.    KRITIK

           Kami selaku pembuat makalah merasa masih banyak terdapat kekurangan disana sini , jadi  kami mohon kritik dan sarannya demi tercapainya kesempurnaan di masa yang akan datang.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Yadiati,Winwin.2007.Teori Akuntansi Suatu Pengantar.Jakarta:Kencana

Riahi,Ahmed.2006.Accounting Theory.Jakarta:Salemba Empat

Niswonger,Warren,Dkk.1999.Prinsip-Prinsip Akuntansi.Jakarta:Erlangga

 

 

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

gambaran sifat-sifat akuntansi

Akuntansi

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.   Latar Belakang

Banyaknya pendapat tentang Akuntansi mengakibatkan banyaknya perdebatan dikalangan kita. Mengenai apakah akuntansi itu sebagai ilmu atau seni, dan banyak orang yang tidak mengerti peranan akuntansi itu sendiri. Akuntansi sebagai seni bahwa akuntansi meliputi beragam teknik yang dianggap berguna  untuk bidang – bidang tertentu. Adanya riset dan praktik yang menjadikan akuntansi sebuah ilmu yang lengkap. Mereka yang berpendapat bahwa akuntansi sebagai seni menyarankan agar keahlian akuntansi yang dibutuhkan untuk menjadi seorang pedagang yang baik harus diajarkan dan memerlukan pendekatan logistic terhadap akuntansi.sifat – sifat dari praktik akuntansi meliputi kejujuran, kepedulian, sensitive terhadap nilai kerja sama dan konflik, komunikatif, serta penyebaran informasi ekonomi dengan memberikan informasi mengenai ekonomi untuk pengambilan keputusan. Akuntansi yang diajarkan apakah sebagai ilmu atau keahlian akan mempengaruhi cara pandang terhadap bidang studi akuntansi. Praktik dan proses akuntansi sangat perlu diperhatikan dan dipahami bagaimana karakteristik sifat dan peranan akuntansi , prinsip – prinsip akuntansi serta siklus akuntansi.

 

  1. B.   Tujuan

Peranan dari akuntansi dapat memberikan informasi mengenai lingkungan prilaku ekonomi yang diakibatkan oleh aktivitas – aktivitas perusahaan dalam lingkungannya. Dari siklus akuntansi dapat diketahui laporan keuangan perusahaan atau lembaga lainnya mengenai laporan posisi keuangannya, laporan laba rugi, laporan arus kas, dan laporan investasi dan distribusi kepada pemilik.

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.          Pengertian Akuntansi

Menurut AICPA (American Institute of Certified Publik Accountants), Akuntansi adalah suatu seni pencatatan,pengklasifikasian,dan pengikhtisaran dalam cara yang signifikan dan dinyatakan dalam nilai mata uang,semua transaksi serta kejadian yang paling tidak sebagian bersifat finansial dan dari catatan itu dapat ditafsirkan hasilnya.

Menurut AAA (American Accounting Association), Akuntansi adalah proses mengidentifikasi/mengenali,mengukur,mengomunikasikan,dan melaporkan informasi ekonomi untuk memungkinkan adanya penilaian dan pengambilan keputusan yang jelas dan tegas bagi mereka yang menggunakan informasi tersebut.

 

  1. B.          Gambaran dari sifat – sifat akuntansi

Menurut Belkaoui (1986) beberapa gambaran sifat-sifat akuntansi :

  1. Akuntansi sebagai suatu ideologi

Bahwa akuntansi sebagai alat untuk melegitimasi keadaan dan struktur sosial,ekonomi dan politik kapitalis. Akuntansi dianggap sebagai mitos,simbol, dan ritus yang berperan menciptakan aturan simbolis tempat masyarakat berintegrasi.

Iwan Triono (2000) menganggap bahwa akuntansi itu tidak bebas nilai,akuntansi juga telah dijadikan sebagai suatu alat untuk melegitimasi dan mendukung ideologi kapitalis,materialis atau penguasa organisasi. Oleh karena itu menurut beliau kalau ideologi seseorang berbeda, dengan ideologi yang melahirkan akuntansi konvensional,yaitu kapitalisme,maka mestinya konsep akuntansinya pasti akan berbeda. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Gambling dan Karim (1987) yang memberikan teori colonial model. Yang menganggap bahwa ,jika suatu masyarakat memiliki ideologi atau pandangan hidup islam,maka masyarakatnya akan menggunakan konsep ini dalam kegiatan sosial dan ekonominya,sehingga akan membentuk akuntansi dan teori akuntansinya sendiri yang berbasis ideologinya.

  1. Akuntansi sebagai bahasa

Akuntansi merupakan bahasa perusahaan yang dapat berbicara(berkomunikasi) sendiri tentang suatu perusahaan atau organisasi yang dilaporkannya.

 

 

  1. Akuntansi  sebagai catatan historis.

Akuntansi dianggap sebagai wahana untuk memberikan gambaran sejarah organisasi dan transaksi yang dilakukan dengan lingkungannya pada masa lalu. Catatan ini merupakan gambaran bagaimana manajemen mengelola kekayaan pemilik. Transaksi yang lalu itu dicatat, dibukukan dan dilaporkan melalui laporan keuangan.

  1. Akuntansi sebagai realitas ekonomi saat ini.

Akuntansi dianggap dapat memberikan gambaran realitas ekonomi perusahaan pada saat ini. Sehingga laporan akuntansi dianggap menggambarkan situasi ekonomi perusahaan pada saat sekarang sehingga sistem akuntansi harus menggunakan harga saat ini (current value).

  1. Akuntansi sebagai sistem informasi.

Akuntansi merupakan teknik yang menggambarkan proses yang menghubungkan sumber data melalui channel komunikasi dengan para penerima informasi.

  1. Akuntansi sebagai komoditi.

Akuntansi keuangan harus mampu merespons kebutuhan para pemakai agar tetap menjadi komoditi yang laku dipasaran. Jika akuntan hanya mampu mengetahui proses pembukuan maka akuntansi tidak akan bernilai komoditi. Sehingga saat ini akuntansi sebagai komoditi mendapat ujian dengan adanya perkembangan ilmu komputer yang telah mengambil ahli perangkat teknologi misalnya komputer telah membantu dalam proses pembuatan transaksi menjadi laporan keuangan.

  1. Akuntansi sebagai sistem pertanggungjawaban.

Akuntansi sebagai media untuk mempertanggungjawabakan pengelolaan suatu perusahaan atau lembaga kepada principal. Dengan adanya akuntansi, sumber- sumber kekayaan, yang dikelola dapat ditelusuri, dapat diketahui arus masuk dan keluarnya, serta hasil yang diperoleh dari transaksi yang terjadi beserta posisi masing-masing kekayaan pada suatu tanggal tertentu dan hasil usahanya pada suatu periode. Gambaran ini mencakup dalam laporan keuangan yang berfungsi baik sebagai informasi maupun sebagai pertanggungjawaban.

  1. Akuntansi sebagai teknologi

Bambang Sudibyo (1987) mengajukan argumen tentang posisi akuntansi sebagai teknoligi dan bukan sebagai science dan art. Menurut beliau akuntansi itu adalah bagian dari praktik,sedangkan jika akuntansi dianggap sebagai teori,maka untuk bisa dipakai mempengaruhi sosial harus terlebih dahulu di olah menjadi teknologi. Teknologi secara langsung akan dapat mengubah sosial, teknologi bisa menjembatani antar teori dengan praktik. Menurut subdibyo akuntansi adalah teknologi perangkat lunak. Akuntansi tidak ditujukan untuk menerangkan dan meramalkan perilaku variabel-variabel, sosial/ekonomi tertentu melainkan untuk mengendalikan variabel. Guna memperbaiki status ekonomi karenanya status sosial dari perilakunya. Wujud yang lebih konkrit dari akuntansi sebagai perangkat lunak adalah bahwa akuntansi merupakan disiplin rekayasa informasi dan pengendalian (kontrol) keuangan.

 

  1. C.           Sifat Dasar Akuntansi

Sifat yang mendasari akuntansi  merupakan konsep yang harus diyakini kebenarannya sebagai dasar ilmu akuntansi itu dibangun. Dalam APB (Accounting Principle Board) statement No.4 dijelaskan beberapa sifat dasar dari akuntansi sebagai berikut.

1)      Accounting Entity

Dalam menyusun informasi akuntansi, yang menjadi fokus pencatatan akuntansi adalah entity atau lembaga, unit organisasi tertentu yang harus jelas sebagai suatu entity yang terpisah dari badan atau entity yang lain.

2)      Going Concern

Dalam menyusun laporan keuangan harus dianggap bahwa perusahaan (entity) yang dilaporkan akan terus beroperasi dimasa yang akan datang.

3)      Measurement

Akuntansi adalah sebagai alat pengukuran sumber-sumber ekonomi (economic Resources) dan kewajiban (liability) beserta perubahannya yang terjadi akibat operasi perusahaan. Akuntansi mengukur nilai suatu aset, kewajiban, modal, hasil, dan biaya.

4)      Time period

Laporan keuangan menyajikan informasi untuk suatu waktu tertentu, tanggal tertentu atau periode tertentu. Neraca menggambarkan nilai kekayaan, utang, dan modal pada saat atau pada tanggal tertentu. Laporan laba rugi menggambarkan informasi hasil (pendapatan dan biaya) usaha pada periode tertentu. Sementara itu, laporan Arus Kas menggambarkan informasi arus kas masuk dan keluar pada periode tertentu, dari satu tanggal ke tanggal lain.

 

 

5)      Monetery unit

Pengukuran yang dipakai dalam akuntansi adalah dalam bentuk ukuran moneter atau uang.

6)      Accrual

Penentuan pendapatan dan biaya dari posisi harta dan kewajiban ditetapkan tanpa melihat apakah transaksi kas telah dilakukan atau tidak.

7)      Exchange price

Nilai yang terdapat dalam laporan keuangan umumnya didasarkan pada harga pertukaran yang diperoleh dari harga pasar sebagai pertemuan bargaining antara pembeli (demand) dan penjual (supply).

8)      Approximation

Adanya penafsiran – penafsiran, baik nilai, harga, umur, jumlah penyisihan piutang, kerugian dan sebagainya.

9)      Judgment

Dalam menyusun laporan keuangan banyak diperlukan pertimbangan – pertimbangan akuntan atau manajemen berdasarkan keahlian atau pengalaman yang dimilikinya.

10)  General purpose

Informasi yang disajikan dalam keuangan yang dihasilkan akuntansi keuangan ditujukan buat pemakai secara umum, bukan pemakaian khusus. Tidak ditujukan khusus kepada bankir, investor, kreditor, analis, manajemen, atau karyawan, tetapi kesemua pihak.

11)  Interrelated statement

Neraca, Datar Laba Rugi, dan Laporan Sumber dan penggunaan kas mempunyai hubungan yang sangat erat dan berkaitan satu sama lain. Ini merupakan salah satu alat kontrol akuntansi akuntansi sehingga tidak mudah melakukan rekayasa laporan begitu saja tanpa memperhatikan hubungan satu pos (akun) dengan pos lainnya.

12)  Substance over form

Akuntansi memberikan informasi yang dipercaya bagi pengambil keputusan, akuntansi lebih menekankan penggunaan informasi yang berasal dari kenyataan ekonomis suatu kejadian daripada bukti legalnya. Misalnya, dalam akta notaris modal disetor penuh, tetapi kenyataan setoran (transaksi) belum ada.

 

13)  Materiality

Laporan keuangan hanya memuat informasi yang dianggap penting dan dalam setiap pertimbangan yang dilakukannya tetap melihat signifikannya.

 

  1. D.          Prinsip – prinsip Akuntansi

Prinsip-prinsip akuntansi itu antara lain :

  1. Prinsip biaya

Yaitu dasar penilaian yang sesuai untuk mengakui akuisisi dari seluruh barang dan jasa,beban,biaya,dan ekuitas. Dengan kata lain suatu transaksi dinilai pada harga pertukaran pada tanggal akuisisi dan dicatat dalam laporan keuangan pada nilai itu atau pada nilai setelah amortisasi.

  1. Prinsip pendapatan

Pendapat berasal dari penjualan barang dan penyerahan jasa serta diukur dengan pembebanan yang dikenakan kepada pelanggan,klien,atau penyewa untuk barang dan jasa yang disediakan bagi mereka. Pendapatan juga mencakup keuntungan dari penjualan atau pertukaran aktiva ( selain saham yang diperdagangkan), bunga,dan dividen yang diperoleh dari investasi,dan peningkatan lainnya dalam ekuitas pemilik kecuali yang berasal dari konstribusi modal dan penyesuaian modal.

  1. Prinsip pengaitan

Menganggap bahwa beban sebaiknya diakui dalam periode yang sama dengan pendapatan terkait yaitu pendapatan diakui dalam suatu periode tertentu menurut prinsip pendapatan, dan beban terkait kemudian diakui.

  1. Prinsip objektivitas

Prinsip objektivitas memiliki interpretasi yang berbeda:

  • Pengukuran objektif adalah ukuran yang bersifat tidak memihak dalam arti bahwa pengukuran tersebut bebas dari bias pribadi si pengukur.
  • Pengukuran objektif adalah pengukuran variable dalam hal bahwa pengukuran tersebut didasarkan pada bukti.
  • Pengukuran objektif adalah hasil dari kesepakatan diantara sekelompok pengamat atau tertentu.
  • Ukuran dari penyebaran distribusi pengukuran dapat digunakan sebagai indicator dari tingkat objektivitas system pengukuran tertentu.
  1. Prinsip konsistensi

Prinsip konsistensi menganggap bahwa kejadian ekonomi yang serupa sebaiknya dicatat dan dilaporkan dengan cara yang konsistendari periode ke periode. Prinsip ini mengimplikasikan bahwa prosedur akuntansi yang sama akan diterapkan kepada transaksi yang serupa sepanjang waktu. Penerapan konsep konsistensi membuat laporan keuangan menjadi lebih dapat diperbandingkan dan lebih berguna.

  1. Prinsip pengungkapan penuh

Mengharuskan laporan keuangan dirancang dan disusun untuk menggambarkan secara akurat kejadian-kejadian ekonomi yang telah mempengaruhi perusahaan selama periode berjalan dan supaya mengandung informasi yang mencukupi guna membuatnya berguna dan tidak menyesatkan bagi investor kebanyakan.

  1. Prinsip konservatisme

Prinsip konservatisme adalah suatu prinsip pengecualian atau modifikasi dalam hal bahwa prinsip tersebut bertindak sebagai batasan terhadap penyajian data akuntansi yang relevan dan andal.

  1. Prinsip materialitas

Prinsip materialitas adalah suatu prinsip pengeculian atau modifikasi. Prinsip ini menganggap bahwa transaksi dan kejadian yang memiliki dampak ekonomi yang tidak signifikan dapat ditangani secara sangat cepat,tanpa memedulikan apakah hal tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum atau tidak.

  1. Prinsip keseragaman dan komparabilitas

Prinsip keseragaman mengacu pada penggunaan prosedur yang sama oleh perusahaan-perusahaan yang berbeda. Tujuan yang diinginkan adalah untuk mencapai komparabilitas laporan keuangan dengan mengurangi keragaman yang diciptakan oleh penggunaan prosedur akuntansi yang berbeda oleh perusahaan-perusahaan.

  1. Ketepatan waktu dari laba dan konservatisme akuntansi

Ketepatan waktu dari laba akuntansi adalah sejauh mana laba akuntansi periode sekarang memasukkan laba ekonomi periode sekarang. Konservatisme adalah sampai sejauh mana laba akuntansi periode sekarang secara asimetris memasukkan kerugian ekonomi,relative terhadap keuntungan ekonomi.

 

  1. E.          Siklus Akuntansi
    1. 1.      Laporan Neraca ( Balance Sheet Stayement )

Neraca adalah laporan yang menggambarkan posisi keuangan perusahaan yang terdiri dari :

  1. Aktiva ( harta kekayaan )
  2. Kewajiban
  3. Modal pada suatu tanggal tertentu

Bentuk neraca keuangan ada 2 macam yaitu :

  1. Bentuk skontro atau daftar ( account form )
  2. Bentuk  vertical atau laporan ( report form )
    1. 2.      Laporan laba rugi ( Income Statement )

Merupakan suatu laporan sistematis yang menggambarkan hasil operasi perusahaan dalam suatu periode waktu tertentu.ada 2 macam bentuk laporan laba rugi yaitu:

  • Bentuk single step
  • Bentuk multi step

Dalam praktek pembukuan di Indonesia biasa nya sering di gunakan multi step.

  1. 3.      Laporan  perubahan ekuitas ( capital statements ) dan Laporan saldo laba             ( retained earning statements )

Biasanya perusahaan perseorangan, laba atau rugi yang di peroleh perusahaan berpengaruh kepada jumlah modal pemilik.modal dapat juga berubah karna adanya tambahan investasi  dari pemilik atau pengambilan pribadi oleh pemilik.Untuk perusahaan terbatas (PT) laba atau rugi juga berpengaruh kepada jumlah laba di tahan, bukan pada modal saham.laporan ini merupakan laporan perubahan laba di tahan pada akhir periode  suatu laporan keuangan.

  1. 4.      Laporan arus kas ( statement of cash flow )

Menurut PSAK No.2 laporan arus kas adalah laporan yang memberikan informasi arus kas perusahaan sebagai dasar menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan dan menggunakan kas.komponen laporan :

 

v  Kas, terdiri dari saldo kas dan rekening giro bank

v  Setera kas merupakan investasi yang sifat nya sangat liquid yang segera di jadikan kas.

Setara kas ( cash equivalent ) adalah investasi yang sifatnya sangat likuid, berjangka pendek, dan yang dengan cepat dapat dijadikan kas dalam jumlah yang dapat ditentukan dan memiliki risiko perubahan nilai yang tidak signifikan.

Setara Kas dimiliki untuk memenuhi komitmen kas jangka pendek, bukan untuk investasi atau tujuan lain. Untuk memenuhi persyaratan sebagi setara kas, suatu investasi harus segera dapat dirubah menjadi kas, dalam jumlah yang dapat ditentukan dan memiliki resiko perubahan nilai yang tidak signifikan. Karenanya, suatu investasi pada umumnya memenuhi syarat sebagai setara kas, hanya jika akan segera jatuh tempo dalam waktu, misalnya tiga bukan atau kurang sejak tanggal perolehannya. Investasu dalam bentuk saham tidak termasuk setara kas, kecuali substansi investasi saham tersebutadalah setara kas, misalnya saham preferen yang diperoleh dalam suatu periode singkat dari jumlah jatuh tenponya dan tanggal penebusan telah ditentukan.

v  Arus kas adalah arus kas masuk dan arus kas keluar

Arus kas tidak termasuk mutasi di antara pos-pos yang termasuk dalam kas atau setara kas, karena komponen tersebut lebih merupakan bagian dari pengelolaan kas entitas dan bukan sebagai bagian dari aktivitas operasi, investasi, dan pendannaan. Pengelolaan kas termasuk investasi kelebihan kas pada setara kas.

v  Aktivitas operasi adalah aktivitas penghasil utama pendapatan dan aktivitas lain yang bukan investasi dan pendanaan

Aktivitas operasi adalah aktivitas penghasil utama pendapatan entitas dan aktivitas lain yang bukan merupakan aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan.Jumlah arus kas yang berasal dari aktivitas operasi merupakan indicator utama untuk menentukan apakah operasi entitas dapat menghasilkan arus kas yang cukup untuk melunasi pinjaman, memelihara kemampuan operasi entitas, membayar dividen, dan melakukan investasi baru tanpa mengandalkan sumber pendanaan dari luar. Informasi tentang unsur tertentu arus kas historis, bersama dengan informasi lain, berguna dalam memprediksi arus kas operasi masa depan.

Arus kas dari aktivitas operasi terutama diperoleh dari aktivitas penghasil utama pendapatan entitas. Oleh karena itu, arus kas tersebut pada umumnya berasal dari transaksi dan peristiwa lain yang mempengaruhi penetapan laba atau rugi neto. Beberapa contoh arus kas dari aktivitas opearsi adalah :

  1. Penerimaan kas dari penjualan barang dan pemberian jasa;
  2. Penerimaan kas dari royalty, fees, komisi, dan pendapatan lain;
  3. Pembayaran kas kepada pemasok barang dan jasa;
  4. Pembayaran kas kepada dan untuk kepentingan karyawan;
  5. Penerimaan dan pembayaran kas oleh entitas asuransi sehubungan dengan premi, klaim, anuitas, dan manfaat polis lain;
  6. Pembayaran kas atau penerimaan kembali (restitusi) pajak pengahasilan kecuali jika dapat diidentifikasikan secara khusus sebagai bagian dari aktivitas pendanaan dan investasi; dan
  7. Penerimaan dan pembayaran kas dari kontrak yang dimiliki untuk tujuan diperdagangkan atau diperjualbelikan (dealing).

Beberapa transaksi, seperti penjualan peralatan pabrik, dapat menimbulkan keuntungan atau kerugian yang diakui dalam laporan laba rugi. Arus kas yang terkait dengan transaksi tersebut marupakan arus kas dari aktivitas inveatsi. Akan tetapi, pembayran kas untuk pabrikasi atau memperoleh asset yang dimiliki untuk dijual asalah arus kas dari aktivitas operasi. Penerimaan kas dari rental dan penjualan asset tersebut diakui sebagai arus kas dari aktivitas operasi.

Entitas dapat memiliki efek dan pinjaman yang diberikan (securities and loans) untuk tujuan diperdagangkan atau diperjualbelikan, yang dalam hal ini dapat dipersamakan dengan persediaan yang khusus  dibeli untuk dijual kembali. Oleh karena itu, arus kas yang berasal dari pembelian dan diperdagangkan tersebut diklasifikasikan sebgaai aktiviats operasi. Sama halnya dengan pemberian kredit oelh lembaga keuangan, pada umumnya diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi, karena berkaitan dengan aktivitas penghasil utama pendapatan lembaga keuangan tersebut.

v  Aktivitas investasi adalah aktivitas perolehan dan pelepasan aktiva jangka panjang serta investasi lain.

Aktivitas investasi adalah perolehan dan pelepasan asset jangka panjang serta investasi lain yang tidak termasuk setara kas.Pengungkapan terpisah arus kas yang berasal dari aktivitas investasi adalah penting karena kas tersebut mencerminkan pengeluaran yang telah terjadi untuk sumber daya yang dimaksudkan menghasilkan pendapatan dan arus kas asa depan. Beberapa contoh arus kas yang berasal dari aktivitas investasi adalah :

  1. Pembayaran kas untuk membeli asset tetap, asset tidak berwujud, dan asset jangka panjang lain termasuk biaya pengembangan yang dikapitalisasi dan asset tetap yang dibangun sendiri;
  2. Penerimaan kas dari penjualan asset tetap, asset tidak berwujud, dan asset jangka panjang lain;
  3. Pembayaran kas untuk membeli instrument utang atau instrument akuitas entitas lain dan kepemilikan dalam ventura bersama (selain pembayaran kas untuk instrument yang dianggap setara kas atau instrumen yang dimiliki untuk diperdagangkan atau diperjualbelikan)
  4. Penerimaan kas dari penjualan instrument utang dan instrument ekuitas lain dan kepemilikan ventura bersama (selain penerimaan kas dari instrument yang dianggap setara kas atau instrument yang dimilki untuk diperdagangkan atau diperjualbelikan)
  5. Uang muka dan pinjaman yang diberikan kepada pihak lain (selain uang muka dan kredit yang diberikan oleh lembaga keuangan);
  6. Penerimaan kas dari pelunasan uang muka dan pinjaman yang diberikan kepada pihak lain (selain uang muka dan kredit yang diebrikan kepada pihak lain (selain uang muka dan kredit yang diberikan oleh lembaga keuangan);
  7. Pembayaran kss sehubungan dengan kontrak future, forward, opsi dan swap, kecuali jika kontrak tersebut dimiliki untuk tujuan diperdagangkan atau diperjualbelikan , atau jika pembayraan tersebut diklasifiksikan sebagai aktivitas pendanaan; dan
  8. Penerimaan kas dari kontrak future, forward, opsi dan swap, kecuali jika kontrak tersebut dimiliki untuk tujuan diperdagangkan atau diperjualbelikan, atau jika pembayaran tersebut diklasifikasikan sebagai aktivitas pendanaan.

Jika suatu kontrak dimaksudkan untuk lindung nilai posisi arus kas terindentifkasi, maka arus kas dari kontrak tersebut diklasifikasikan dengan cara yang sama seperti arus kas dari posisi yang dilindungi nilainya.

v  Aktivitas pendanaan adalah aktivitas yang mengakibatkan perubahan dalam jumlah serta komposisi modal dan pinjaman perusahaan

Aktivitas pendanaan adalah aktivitas yang mengakibatkan perubahan dalam jumlah serta komposisi kontribusi modal dan pinjaman entitas.

 

 

ex:

  • Penerimaan emisi saham
  • Obligasi
  • Pinjaman
  • Wesel
  • Hipotik
  • Pembayaran kepada pemegang saham
  • Pelunasan pinjaman

 

Metode yang di gunakan untuk menyusun laporan arus kas adalah metode langsung (direct methods)

 

  1. 5.      Catatan atas  laporan keuangan

Umum nya catatan atas laporan keuangan terbagi atas  2 bagian yaitu:

1)      Informasi umum yang meliputi nama dan alamat lengkap perusahaan, dokumen perjanjian, susunan pemilik atau pemegang saham, komposisi  pemilik modal, susun pengurus.

2)      Kebijakan akuntansi meliputi prinsip-prinsip, dasar-dasar, konvensi, metode, system dan prosedur yang digunakan manajemen dalam peyusunan dan penyajian laporan keuangan ( PSAK No 1 )

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

Akuntansi adalah suatu seni pencatatan, pengklasifikasian, dan pengikhtisaran dalam cara yang signifikan dan dinyatakan dalam nilai mata uang, semua transaksi serta kejadian yang paling tidak bersifat finansial dan dari catatan itu dapat ditafsirkan hasilnya.

Menurut Belkaoui (1986) beberapa gambaran sifat-sifat akuntansi adalah sebagai berikut: akuntansi sebagai ideologi, akuntansi sebagai bahasa, akuntansi sebagai catatan historis, akuntansi sebagai realitas ekonomi saat ini, akuntansi sebagai sistem informasi, akuntansi sebagai komoditi, akuntansi sebagai sistem pertanggungjawab, akuntansi sebagai teknologi.

Prinsip-prinsip akuntansi yaitu prinsip biaya, prinsip pendapatan, prinsip pengaitan, prinsip objektivitas, prinsip konsistensi, prinsip pengungkapan penuh, prinsip konservatisme, prinsip keseragaman dan komparabilitas, ketepatan waktu dari laba dan konservatisme akuntansi.

Laporan neraca menggambarkan keadaan masa kini, laporan laba rugi menggambarkan keadaan masa lalu, dan laporan perubahan dana atau kas menggambarkan keadaan yang akan datang. Akuntansi sebenarnya lebih dominan pemakainya dipasar modal. Informasi akuntansi yang disajikan melalui laporan keuangan merupakan media utama bagi investor dipasar modal untuk memberikan keputusan ekonomis tentang pilihan investasi yang akan dilakukannya dipasar modal. Siklus akuntansi itu sendiri antara lain laporan neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas dan laporan saldo laba, laporan arus kas, serta catatan atas laporan keuangan.

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar